Menyusuri Sejarah Condet, Kawasan Hijau yang Pernah Jadi Benteng Perlawanan

Navaswara.com – Apa yang terlintas di benak Anda saat mendengar nama Condet? Barangkali deretan toko kurma dan minyak wangi, aroma masakan Timur Tengah, atau justru Salak Condet yang pernah menjadi ikon Ibu Kota.

Di balik wajahnya yang kini lekat dengan kultur Arab, Condet menyimpan sejarah panjang. Wilayah di Jakarta Timur ini pernah menjadi bagian penting dari dinamika Batavia tempo dulu, mulai dari lanskap hijau di tepi Ciliwung hingga basis perlawanan terhadap VOC.

Yuk, menelusuri jejak historis Condet.

Jauh sebelum dikenal sebagai permukiman padat, Condet diyakini berangkat dari nama sebuah pohon. Ondet atau ondeh-ondeh adalah sebutan lokal untuk pohon buni yang buahnya dapat dimakan. Pohon ini tumbuh subur di sepanjang Sungai Ciliwung dan diduga menjadi penanda awal kawasan tersebut.

Nama Condet mulai muncul dalam catatan resmi pada awal abad ke-18. Salah satunya tertulis dalam perjalanan Direktur Jenderal VOC Abraham van Riebeeck pada 24 September 1709. Ia mencatat rutenya melewati anak sungai Ci Ondet, menandakan bahwa wilayah ini sudah dikenal dalam lanskap Batavia kala itu.

Eksistensi Condet juga tercatat dalam surat wasiat Pangeran Purbaya dari Banten pada 1716. Dalam dokumen yang disahkan notaris itu, Purbaya mewariskan rumah dan kerbau di Condet kepada keluarganya. Beberapa dekade kemudian, pada 1753, pimpinan Kompeni di Batavia memutuskan penjualan tanah Condet kepada Frederik Willem Freijer. Sejak saat itu, Condet menjadi bagian dari tanah partikelir Tandjong Oost, atau Groeneveld.

Julukan Groeneveld, yang berarti tanah hijau, bukan tanpa alasan. Pada abad ke-18, Condet dikenal sebagai hamparan kebun dan pepohonan rimbun yang membentang di pinggiran Batavia.

Basis Perlawanan di Pinggiran Batavia

Nama Condet juga tak bisa dilepaskan dari Pangeran Purbaya, putra Sultan Ageng Tirtayasa. Saat memimpin perlawanan terhadap Sultan Haji yang bersekutu dengan VOC, Purbaya menjadikan Condet sebagai salah satu tempat persembunyian dan basis perjuangan Laskar Banten.

Dalam cerita tutur, sosoknya kerap disamarkan sebagai Pangeran Geger. Namun, catatan sejarah menunjukkan bahwa Purbaya memang berkeluarga dan memiliki aset di Condet. Peran kawasan ini sebagai bagian dari Ommelanden, wilayah penyangga Batavia, menjadikannya strategis, baik secara militer maupun ekonomi.

Kebun Buah, Maskot Jakarta

Condet tempo dulu masyhur sebagai sentra kebun buah. Duku dan salak tumbuh subur di kawasan ini, hingga Salak Condet ditetapkan sebagai salah satu maskot Jakarta bersama Elang Bondol pada 1989.

Kini, sisa-sisa kejayaan itu masih bisa ditemui di Kebun Cagar Buah Condet, kawasan Balekambang. Lahan konservasi ini menjadi pengingat bahwa Condet pernah menjadi lumbung buah di pinggiran Ibu Kota.

Pada era Gubernur Ali Sadikin, Condet sempat ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Masyarakat Betawi. Pertimbangannya mencakup faktor alam, sejarah, hingga budaya. Namun, kebijakan itu tak berlanjut di periode berikutnya.

Seiring waktu, komposisi penduduk Condet berubah. Sejak 1950-an, warga keturunan Arab, banyak di antaranya berasal dari Pekojan, mulai menetap di kawasan ini. Perlahan, Condet berkembang menjadi wilayah yang religius dengan nuansa Timur Tengah yang kuat.

Kini, Anda dapat dengan mudah menemukan toko busana muslim, pernak-pernik haji, hingga rumah makan nasi kebuli dan nasi mandhi, terutama di sekitar pusat-pusat peribadatan seperti Al-Hawi.

Meski telah bertransformasi, harapan agar Condet tetap menjaga identitas Betawi masih terdengar. Sejalan dengan pesan mendiang Ali Sadikin, pembangunan kota semestinya tidak menghapus nilai-nilai lama yang telah mengakar.

Setelah mengetahui sejarahnya, bagaimana Anda melihat wajah Condet sekarang?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *