Songsong Visi Indonesia Emas 2045, Irwan Dewanto Rilis Buku Panduan Estafet Kepemimpinan “Milenial Bisa Memimpin”

Navaswara.com — Gelombang pergeseran demografi tenaga kerja kini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sebuah perusahaan. Merujuk data Badan Pusat Statistik atau BPS, generasi milenial saat ini mendominasi hingga setengah dari total angkatan kerja produktif di Indonesia. Sayangnya, dominasi kuantitas ini kerap berbenturan dengan budaya organisasi yang masih kaku dan sangat feodal. Akibatnya, banyak perusahaan mengalami fenomena talent drain atau kehilangan talenta-talenta muda terbaik karena gagal menciptakan lingkungan kerja yang relevan dan adaptif bagi generasi penerus.

Menjawab kegelisahan dan krisis kepemimpinan tersebut, Dr. Irwan Dewanto, Chief Human Resources Officer TACO Group resmi meluncurkan buku bertajuk “Milenial Bisa Memimpin”. Karya yang diangkat dari riset mendalam disertasi doktoralnya ini diperkenalkan ke publik melalui sebuah acara peluncuran dan temu penulis di TACO Showroom IDD Indonesia, kawasan Pantai Indah Kapuk atau PIK2, pada hari Rabu (20/05/2026). Buku ini hadir bukan sekadar sebagai literatur akademis, melainkan sebuah peringatan keras sekaligus panduan strategis bagi para eksekutif untuk segera melakukan transformasi gaya kepemimpinan di era disrupsi digital.

Dalam pemaparannya, sang penulis menegaskan bahwa mengubah budaya kerja yang usang wajib diinisiasi langsung oleh manajemen puncak dan tidak bisa ditunda lagi. “Di semua literatur mengatakan kalau mengubah budaya, itu tidak bisa bottom-up. Harus top-down. Jadi memang yang paling atas itu harus engage. Kita tidak bisa denial terus,” tegas Dr. Irwan di hadapan para eksekutif dan hadirin yang datang. “Kalau kita keep doing that, kita tidak akan bisa dapat talent-talent bagus. Sehingga generasi tidak akan terganti,” tegasnya.

Mengusung Standar Baru “The Big 4”

Lebih lanjut, Irwan menyerukan agar para pemimpin senior segera membuang sikap menyangkal dan mulai membuka diri untuk membenahi standar kepemimpinan melalui pendekatan Empat Pilar Utama atau “The Big 4”. Kunci sukses kepemimpinan ini diukur dari seberapa cepat pemimpin beradaptasi, berinovasi, dan menyelesaikan masalah. Terdapat empat hal penting di dalamnya yaitu membangun budaya kerja yang sehat, rajin mengapresiasi keberhasilan-keberhasilan kecil tim, memanfaatkan teknologi agar kerja lebih lincah, serta rutin mengobrol dua arah lewat skema mentoring.

“Stop denial. Mulai being inclusive. Karena diversity juga termasuk age diversity,” tambahnya secara lugas. Sang pakar mengilustrasikan perubahan ini dengan sebuah perumpamaan konkret dalam menghadapi ribuan karyawan. “Sekarang karena demografinya sudah berubah. Nah dengan kita sadar itu, kita bisa inclusive, kita bisa dapat talent bagus, akhirnya organisasi kita menang,” tegasnya dalam sesi bedah buku.

Persiapan estafet kepemimpinan lintas generasi ini dinilai sangat krusial guna menyongsong visi Indonesia Emas 2045. Dalam 19 tahun ke depan, transisi tampuk kepemimpinan tertinggi otomatis akan beralih.  Dr. Irwan menjelaskan, generasi millennial seharusnya mulai menempati posisi strategis di level C-suite maupun jajaran tertinggi organisasi. Sementara itu, generasi Z dinilai perlu diperkuat di level middle management melalui sistem kerja yang sehat dan produktif.

Lewat konsep LEAD-PRO yang dikembangkannya, ia menekankan pentingnya menyiapkan pemimpin muda yang matang dan memiliki kapasitas kuat, bukan hadir secara instan. “Millennial yang naik ke level C harus benar-benar siap memimpin. Sementara Gen Z juga perlu dibangun menjadi generasi yang produktif agar organisasi bisa mencapai tujuannya,” ujarnya.

Pemikiran tersebut menjadi salah satu dasar lahirnya buku pertamanya. Dr. Irwan juga membagikan bocoran mengenai karya lanjutan yang tengah disiapkan dengan judul “Gen Z Bisa Produktif”.

Momentum Kebangkitan Kepemimpinan Millennial

Peluncuran buku “Milenial Bisa Memimpin” karya Dr. Irwan Dewanto ini juga mendapat apresiasi tinggi dari kalangan akademisi. Direktur PT Pusat Studi Apindo (ATC) sekaligus Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen SDM FEB-UNS, Prof. Dr. Soeprayitno, MM., MSc., menyebut momentum peluncuran karya ini sangat tepat karena berbarengan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Pemilihan tanggal tersebut dinilai sebagai sebuah langkah hijrah atau momen kebangkitan bagi dunia organisasi untuk segera bertransisi dari cara lama menuju sistem yang lebih menyala dan adaptif.

Sebagai akademisi yang turut menguji proses doktoral Dr. Irwan di SBM ITB, Prof. Soeprayitno menegaskan bahwa materi dalam buku tersebut memiliki landasan penelitian yang sangat solid. Riset yang dilakukan pada berbagai perusahaan terbukti memiliki validasi kuat yang memenuhi standar ketat jurnal Scopus bertaraf internasional. Kualitas tulisan yang dihasilkan pun dinilai sangat presisi karena mampu menyajikan data yang aktual, tajam, dan terpercaya guna menjawab persoalan nyata di lapangan kerja masa kini.

“Pemilihan tanggal 20 Mei ini adalah bagian dari sebuah momentum kebangkitan. Materi yang disampaikan benar-benar merupakan hasil penelitian tervalidasi yang aktual, tajam, dan terpercaya. Semoga buku ini bukan yang pertama dan terakhir, melainkan menjadi monumen awal serta legasi yang mengantarkan Dr. Irwan meraih pencapaian akademis tertinggi,” ujar Prof. Soeprayitno dalam sambutannya di TACO Showroom IDD Indonesia, Pantai Indah Kapuk.

Kehadiran karya intelektual ini diharapkan menjadi pengakuan atau rekognisi nyata terhadap pemikiran Dr. Irwan Dewanto di ranah manajemen sumber daya manusia. Prof. Soeprayitno sangat optimistis bahwa dedikasi sang penulis dalam meneliti perilaku generasi pekerja akan terus berlanjut dan membuahkan lebih banyak literatur penting yang mampu memperkuat arsitektur kepemimpinan nasional pada masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *