Navaswara.com – Tersembunyi di kawasan Glodok, Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Kemenangan III Nomor 13, berdiri sebuah bangunan tua yang menyimpan jejak panjang sejarah Jakarta. Kelenteng Kim Tek Le, juga dikenal dengan nama Jin De Yuan atau Kelenteng Dharma Bhakti, merupakan kelenteng tertua yang masih berdiri dan aktif digunakan di ibu kota. Berdasarkan berbagai catatan, kelenteng ini pertama kali dibangun pada tahun 1650.
Kelenteng ini pertama kali dibangun pada 1650, menjadikannya kelenteng tertua yang masih berdiri dan aktif digunakan di ibu kota. Pendirinya adalah Kwee Hoen, seorang Letnan Tionghoa pada masa VOC, yang menamai kelenteng tersebut Koan Im Teng. Sejak awal, tempat ini menjadi pusat spiritual dan sosial bagi masyarakat Tionghoa yang menetap di Batavia, kota pelabuhan yang kala itu berkembang pesat sebagai pusat perdagangan.
Namun, perjalanan Kelenteng Koan Im Teng tak lepas dari babak kelam sejarah. Pada 1740, ketika pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa terjadi di kawasan Batavia, termasuk di Kali Angke, kelenteng ini turut menjadi sasaran amuk massa. Bangunan yang selama puluhan tahun menjadi pusat spiritual itu rusak parah dan terbakar. Tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam, tidak hanya bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga bagi sejarah Jakarta secara keseluruhan.
Peristiwa pembantaian di Angke menjadi pengingat pahit tentang rapuhnya toleransi di tengah ketegangan sosial dan politik masa kolonial. Kelenteng Koan Im Teng, sebagai simbol budaya dan kepercayaan, ikut menjadi korban kekerasan tersebut. Meski demikian, kehancuran fisik tidak memadamkan semangat untuk bangkit kembali.
Lebih dari satu abad setelah tragedi itu, pada 1755, seorang kapten Tionghoa bernama Oie Tjhie memprakarsai pemugaran kelenteng. Sejak saat itu, tempat ibadah ini dikenal dengan nama Kim Tek Le (Kelenteng Kebajikan Emas).
Nama tersebut mengandung pesan moral, Kim berarti emas, Tek bermakna kebajikan, dan Le berarti kebahagiaan. Sebuah pengingat bahwa kehidupan tidak hanya soal mengejar materi, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai kebajikan, harmoni, dan kemanusiaan.
Hingga kini, Kelenteng Kim Tek Le tetap berdiri kokoh di tengah kepadatan Glodok. Arsitekturnya masih mempertahankan ciri khas Tiongkok klasik, dengan atap melengkung, ornamen naga dan singa, serta ukiran kayu yang sarat makna simbolik. Setiap sudut bangunan seolah merekam perjalanan panjang komunitas Tionghoa di Jakarta.
Salah satu kekayaan utama kelenteng ini adalah koleksi artefak bersejarah yang tersimpan di dalamnya. Patung-patung Buddha dan tokoh spiritual, termasuk Dewi Kwan Im dan Dewa Bumi, menghiasi ruang-ruang utama. Banyak di antaranya berusia ratusan tahun, setua kelenteng itu sendiri. Artefak-artefak ini tidak hanya bernilai religius, tetapi juga menjadi warisan sejarah bagi Jakarta.
Dalam kehidupan sehari-hari, Kim Tek Le tetap menjadi pusat aktivitas keagamaan masyarakat Tionghoa. Pada hari-hari besar seperti Imlek dan Cap Go Meh, kelenteng ini dipenuhi umat yang datang untuk bersembahyang, memanjatkan harapan, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi leluhur. Di tengah modernisasi kota, ritual-ritual itu terus hidup, diwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, Kelenteng Kim Tek Le tidak hanya berfungsi sebagai pusat keagamaan, tetapi juga sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Pengunjung datang untuk menyusuri jejak masa lalu Jakarta, mengagumi arsitektur, dan merasakan atmosfer toleransi yang telah bertahan selama ratusan tahun. Keberadaan Kim Tek Le menjadi pengingat bahwa Jakarta tumbuh dari keberagaman, sebuah kota yang dibangun oleh banyak identitas, keyakinan, dan cerita yang saling berdampingan.
Foto: Istimewa
