Navaswara.com – Suasana hangat menyelimuti perayaan hari jadi ke-9 Aesthetics Dental Care yang digelar baru-baru ini. Di tengah keriuhan acara, sosok drg. Grace Prasetyo, Cert.Orth., tampil tenang namun memancarkan energi yang kuat. Mengenakan busana yang elegan, pemilik klinik gigi yang berlokasi di Nava Park, BSD ini menyapa tamu-tamunya dengan senyum.
Dalam pandangan drg. Grace, sembilan tahun bukan semata capaian angka, melainkan perjalanan membuktikan integritas dalam menakhodai bisnis medis sejak 2017.
“Tantangan terbesar saya selama ini bukan soal kemampuan klinis, melainkan persepsi,” ujarnya saat berbincang santai di sela acara dengan Navaswara. Ia menceritakan tentang dunia manajerial yang sering memberikan standar ganda bagi pemimpin perempuan. “Kita diharapkan empatik, tapi ketika tegas dianggap terlalu keras. Kita diharapkan hangat, tapi ketika strategis dianggap terlalu ambisius,” lanjutnya.
Namun, drg. Grace memilih untuk tidak terjebak dalam permainan ekspektasi orang lain. “Cara saya mengatasinya sederhana. Saya tidak berusaha memenuhi persepsi. Saya fokus pada kompetensi, hasil klinis, dan konsistensi pelayanan. Reputasi tidak dibangun dari opini, tapi dari outcome,” tegasnya.

Estetika Bukan Hanya Visual tapi Fondasi Kesehatan
Realitasnya, industri kecantikan gigi saat ini lebih banyak terjebak pada klaim ‘putih instan’, namun drg. Grace membawa prinsip yang lebih fundamental. Baginya, keindahan yang rapuh adalah kesia-siaan. “Prinsip yang saya pegang hanya satu. Estetika tanpa kesehatan adalah ilusi. Kami tidak mengejar gigi putih dan lurus semata, kami membangun fondasi kesehatan jangka panjang,” tuturnya.
Inilah alasan mengapa Aesthetics Dental Care tidak tanggung-tanggung berinvestasi pada teknologi kelas dunia seperti 3D X-Ray, Oral Scanner, hingga Mikroskop. Bahkan, kliniknya telah diakui sebagai Invisalign Diamond Provider. Bagi Grace, kecanggihan alat bukan untuk gaya-gayaan, melainkan demi akurasi diagnosis yang tidak bisa ditawar.
Hal yang membuat Aesthetics Dental Care terasa hangat justru bukan peralatannya, melainkan pendekatan personal yang sangat manusiawi. drg. Grace menyebut teknologi hanya alat bantu. Tanpa empati, semuanya terasa dingin. “Sembilan tahun membangun klinik ini mengajarkan saya satu hal. Sebelum menolong, saya harus sungguh-sungguh mendengarkan,” ujarnya.
Ia paham pasien tidak datang hanya membawa keluhan medis. Ada rasa takut, pengalaman kurang menyenangkan, hingga harapan untuk kembali percaya diri lewat senyum yang sehat. Karena itu ia memilih duduk lebih lama, membuka ruang percakapan, dan tidak tergesa memberi keputusan. “Saya mulai dari cerita mereka. Kebiasaan sehari-hari, kekhawatiran, sampai harapan yang ingin dicapai. Dari situ saya tahu pendekatan apa yang paling tepat,” katanya.
Baginya, perawatan gigi tidak berdiri sendiri sebagai tindakan klinis. Relasi antara dokter dan pasien menjadi fondasi utama. Kepercayaan dibangun pelan-pelan, lewat dialog yang jujur dan sikap yang konsisten. Di ruang praktiknya, kenyamanan tidak hadir sebagai slogan, tetapi sebagai sikap kerja yang dijaga setiap hari.
Dalam bisnis, ia menganut filosofi tumbuh secara organik. “Saya percaya pertumbuhan harus mengikuti kualitas, bukan sebaliknya. Lebih baik berkembang sedikit lebih lambat, tapi dengan standar yang tidak pernah diturunkan,” tambahnya. Pendekatan ini terbukti efektif; kepercayaan pasien justru tumbuh karena mereka merasa aman, bukan sekadar merasa “cantik”.

Keberanian Menjadi Perempuan Ambisius
Berbicara tentang senyum, drg. Grace melihatnya sebagai instrumen penting dalam personal branding. Banyak pasien perempuan datang kepadanya bukan hanya karena alasan estetik, melainkan keinginan merasa pantas tampil di ruang profesional, mulai dari presentasi hingga public speaking. Namun, ia selalu mengingatkan bahwa kenyamanan diri adalah kunci utama.
“Kepercayaan diri tidak lahir dari veneer atau aligners. Itu lahir dari kenyamanan terhadap diri sendiri. Peralatan gigi hanya membantu menghilangkan distraksi yang selama ini menghambat potensi seseorang,” jelas perempuan yang gemar tantangan di arena berkuda ini.
Sebagai penutup perbincangan, drg. Grace menitipkan pesan bagi perempuan yang ingin membangun jejak di bidang apa pun. Ia menyoroti bagaimana media sosial seringkali menciptakan ilusi sukses semalam, padahal kompetensi tetap harus dibangun bertahun-tahun sebelum membangun citra.
“Satu hal penting, jangan takut terlihat ambisius. Perempuan sering diajarkan untuk merasa ‘cukup’. Padahal jika kita ingin membangun sesuatu yang berdampak, kita harus berani ingin lebih,” pungkasnya mantap. Baginya, bermimpi besar adalah hak setiap perempuan, selama disertai kompetensi dan keyakinan bahwa Tuhan selalu menyertai setiap langkah berani tersebut.

