Navaswara.com – Ada perubahan menarik yang mulai terlihat di kalangan generasi muda Muslim Indonesia. Jika dulu pencapaian hidup sering diukur dari rumah, kendaraan, atau karier mapan, kini semakin banyak anak muda yang mulai memasukkan haji dan umrah ke dalam daftar tujuan hidup mereka sejak usia muda.
Temuan ini terlihat dalam survei terbaru Muslim Pro, platform gaya hidup Muslim global dengan lebih dari 190 juta unduhan di dunia. Survei terhadap pengguna di Indonesia menunjukkan bahwa aspirasi spiritual kini semakin menjadi bagian penting dalam cara generasi muda memandang masa depan mereka.
Sebanyak 81 persen responden mengaku menginginkan kemudahan perencanaan haji, umrah, atau zakat dalam layanan tabungan berbasis syariah. Menariknya, pada kelompok usia 23 hingga 39 tahun, minat terhadap fitur perencanaan religi mencapai 66 persen dan menjadi fitur digital yang paling diminati dibandingkan dengan kelompok usia lainnya.
Fenomena ini memperlihatkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap makna kesuksesan. Di tengah kehidupan digital yang semakin cepat, banyak anak muda mulai mencari pencapaian yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga memberi makna emosional dan spiritual dalam hidup mereka.
Bagi generasi Muslim yang tumbuh bersama media sosial dan teknologi digital, ruang daring kini bukan lagi sekadar tempat hiburan atau tempat membangun citra diri. Platform digital mulai menjadi ruang belajar agama, refleksi diri, hingga tempat merancang tujuan hidup jangka panjang.
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menunjukkan pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221,5 juta orang pada 2024 atau sekitar 79,5 persen populasi nasional. Besarnya penetrasi digital inilah yang ikut membentuk cara baru generasi muda memahami identitas, gaya hidup, hingga spiritualitas mereka.
Group Managing Director dan CEO Muslim Pro, Nafees Khundker, mengatakan bahwa anak muda Muslim saat ini jauh lebih terbuka dalam membicarakan aspirasi spiritual dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Menurutnya, keinginan menunaikan haji atau umrah di usia muda kini mulai dipandang sebagai bagian dari tujuan hidup personal, bukan lagi sesuatu yang hanya dipersiapkan ketika usia sudah lanjut atau kondisi ekonomi benar-benar mapan.
Perubahan ini juga sejalan dengan perkembangan ekonomi Islam global. Dalam laporan State of the Global Islamic Economy Report 2024/25, sektor Muslim-friendly travel disebut sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat, dengan proyeksi nilai pasar mencapai US$384 miliar pada 2028.
Indonesia sendiri kini berada di posisi strategis dalam perkembangan ekonomi halal dunia. Laporan tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ketiga global dalam indikator ekonomi Islam dan peringkat kedua dunia untuk sektor pariwisata ramah Muslim.
Namun, di balik tingginya aspirasi spiritual tersebut, persoalan kesiapan finansial masih menjadi tantangan besar. Survei yang sama menemukan bahwa 65 persen responden mengaku jarang, bahkan belum pernah menyisihkan dana khusus untuk haji maupun umrah.
Pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah, angka tersebut bahkan meningkat hingga 72 persen. Hambatan terbesar yang dirasakan mayoritas responden adalah keterbatasan finansial dan ketidakstabilan pendapatan.
Artinya, persoalan utamanya bukan terletak pada niat. Banyak anak muda sebenarnya sudah memiliki keinginan kuat untuk berangkat haji atau umrah, tetapi belum memiliki sistem finansial yang membantu tujuan tersebut terasa realistis dan dapat dicapai secara bertahap.
Situasi ini juga diperumit oleh panjangnya antrean haji di Indonesia. Data Kementerian Agama Republik Indonesia menunjukkan masa tunggu Haji di sejumlah daerah kini mencapai belasan hingga puluhan tahun, sehingga perencanaan keuangan sejak dini menjadi semakin penting.
Melihat kesenjangan antara aspirasi dan kesiapan tersebut, Muslim Pro bersama Maybank Syariah Indonesia meluncurkan Amanah Pro, layanan keuangan digital yang dirancang untuk membantu masyarakat membangun kebiasaan menabung secara bertahap untuk persiapan Haji dan Umrah.
Platform ini memungkinkan pengguna menentukan target tabungan sesuai kemampuan finansial masing-masing agar proses menabung terasa lebih ringan dan realistis dijalani dalam jangka panjang.
Bagi banyak anak muda Muslim saat ini, hubungan antara perencanaan keuangan dan tujuan spiritual mulai berjalan berdampingan. Menabung bukan lagi sekadar tentang membeli sesuatu, tetapi juga tentang mempersiapkan perjalanan hidup yang dianggap bermakna secara personal.
Di tengah perubahan gaya hidup generasi muda, fenomena ini memperlihatkan bahwa spiritualitas kini mulai kembali menemukan ruangnya. Dan bagi sebagian anak muda Indonesia, pergi ke Tanah Suci bukan lagi mimpi yang menunggu usia tua, melainkan bagian dari ambisi hidup yang ingin mulai diwujudkan sejak sekarang.
