Navaswara.com – Jakarta tak hanya soal gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk pusat kota. Di sudut utara ibu kota, tepatnya di kawasan Marunda Pulo, Cilincing, berdiri sebuah rumah kayu yang menyimpan kisah perlawanan rakyat Betawi terhadap kolonialisme.
Bangunan itu dikenal luas sebagai Rumah Si Pitung. Namun, dalam khazanah arsitektur Betawi, rumah panggung ini lebih akrab disebut Rumah Tinggi.
Dahulu, Marunda Pulo merupakan sebuah pulau kecil yang relatif sunyi. Rumah Tinggi menjadi satu-satunya bangunan yang berdiri mencolok di kawasan tersebut, sebelum permukiman warga perlahan tumbuh dan mengepungnya seperti hari ini.
Persinggahan Sang “Robin Hood” Betawi
Meski namanya lekat dengan sosok Si Pitung, rumah panggung bergaya Betawi Pesisir ini sejatinya milik seorang saudagar kaya asal Makassar bernama Haji Saipudin. Sejumlah sumber menyebut ia sebagai bandar ikan, sementara yang lain meyakini ia merupakan juragan kapal besar pada masanya.
Haji Saipudin dikenal sebagai sahabat dekat Si Pitung. Jagoan Betawi yang kerap dijuluki “Robin Hood dari Batavia” itu diyakini beberapa kali singgah di rumah ini pada medio 1890-an.
Salah satu kisah yang paling dikenal adalah ketika Si Pitung menjadikan rumah ini sebagai tempat persembunyian terakhirnya, saat ia diburu tentara Belanda akibat tuduhan perampokan terhadap kaum berada.
Nama “Rumah Si Pitung” kian populer setelah lokasi ini dijadikan tempat syuting film Pitung Jago Betawi. Sejak itu, identitas rumah sang saudagar perlahan tergeser oleh citra rumah sang jawara.
Perjalanan Rumah Si Pitung hingga menjadi museum bukanlah proses singkat. Pada 1972, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membeli bangunan ini dari keturunan terakhir Haji Saipudin, yakni H. Mat Sani.
Di tahun yang sama, pemugaran pertama dilakukan. Fokus utama kala itu adalah menjaga 40 tiang penyangga yang menopang bangunan utama agar tetap kokoh.
Kini, Rumah Si Pitung resmi berstatus Cagar Budaya. Sejumlah renovasi dilakukan untuk melawan ancaman waktu dan alam.
Pada 2010, bangunan ini ditinggikan hingga sekitar 4 meter guna menghindari banjir rob yang kerap melanda pesisir utara Jakarta. Renovasi tersebut menelan biaya sekitar Rp 3 miliar. Lantai bambu yang mulai lapuk juga diganti dengan kayu yang lebih kuat.
Dua tahun berselang, pembenahan dilanjutkan ke area halaman, pagar, dan gerbang agar lebih ramah bagi pengunjung.
Mengintip Bagian Dalam Rumah Panggung
Untuk masuk ke dalam rumah, pengunjung harus menaiki tangga kayu di sisi utara bangunan. Ruang tamu sederhana berukuran sekitar 2 x 2,5 meter menjadi area pertama yang menyambut.
Di bagian dalam, terdapat kamar tidur lengkap dengan kasur, ruang makan, serta dapur yang terhubung langsung ke beranda belakang. Tata ruangnya mencerminkan kehidupan masyarakat pesisir Betawi pada akhir abad ke-19.
Meski telah beberapa kali direnovasi, struktur dan bentuk asli rumah tetap dipertahankan. Rumah Si Pitung bukan sekadar bangunan kayu di tepi laut, melainkan penanda ingatan kolektif tentang perlawanan, persahabatan, dan identitas Betawi yang masih bertahan di tengah modernisasi Jakarta.
Foto: Istimewa

