Uji Coba Skrining DNA HPV Buka Jalan Perluasan Deteksi Dini Kanker Serviks

Navaswara.com – Upaya memperluas akses skrining kanker leher rahim memasuki fase baru. Kementerian Kesehatan RI bersama Jhpiego Indonesia, Roche Diagnostics Indonesia, dan Bio Farma memaparkan hasil proyek percontohan skrining DNA HPV di Jawa Timur yang mengandalkan model layanan hub-and-spoke serta pengambilan sampel mandiri. Diseminasi nasional ini menjadi ruang berbagi temuan lapangan, sekaligus bahan pertimbangan kebijakan untuk perluasan program secara nasional.

Studi yang berjalan pada November 2024 hingga November 2025 ini menguji bagaimana skrining dapat menjangkau perempuan secara lebih merata lewat jejaring laboratorium dan layanan primer. Dua wilayah dengan karakter berbeda dipilih sebagai lokasi uji, yakni Kelurahan Manukan Kulon di Surabaya dan Kecamatan Wonoayu di Sidoarjo. Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi model rujukan dan pendekatan berbasis komunitas mampu meningkatkan partisipasi serta efisiensi layanan.

Di Surabaya, skrining dilakukan melalui self-sampling dan menjangkau 5.500 perempuan atau sekitar 75 persen dari target. Pendekatan ini dinilai praktis dan lebih menjaga privasi, sehingga membantu mengurangi hambatan psikologis. Peran kader di komunitas juga disebut berpengaruh dalam membangun kepercayaan dan mendorong partisipasi. Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kota Surabaya dengan sistem molekuler otomatis berkapasitas menengah hingga tinggi.

Sementara di Sidoarjo, pengambilan sampel dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Wonoayu dan menjangkau 923 perempuan atau 75 persen dari target. Pendekatan ini memberi ruang pendampingan langsung serta menjangkau peserta melalui kegiatan komunitas, termasuk di lingkungan kerja. Sampel diperiksa di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kabupaten Mojokerto dengan sistem semi-otomatis yang memanfaatkan infrastruktur pemerintah.

Dari sisi operasional, perbedaan tingkat otomasi memberikan pelajaran penting. Laboratorium di Surabaya mampu memproses hingga 96 sampel per hari dengan keterlibatan tenaga laboratorium sekitar sepertiga dari total waktu proses. Di Mojokerto, sistem semi-otomatis memerlukan keterlibatan tenaga hingga sekitar 90 persen dari total waktu. Temuan ini menjadi dasar pertimbangan dalam penguatan jejaring laboratorium untuk mendukung perluasan skrining secara lebih efisien.

Direktur PT Roche Indonesia Divisi Diagnostik, Lee Poh Seng, menilai kualitas sistem diagnostik berperan besar dalam keberhasilan layanan. “Penerapan skrining DNA HPV dalam model hub-and-spoke terbukti meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat penyampaian hasil pemeriksaan. Ini menjadi fondasi penting untuk layanan yang terstandar,” ujarnya.

Temuan ini hadir di tengah masih tingginya beban kanker leher rahim di Indonesia. Data 2023 mencatat hampir 37 ribu kasus baru dengan lebih dari 21 ribu kematian. Tanpa penguatan intervensi, angka tersebut diproyeksikan meningkat signifikan dalam dua dekade mendatang. Karena itu, skrining DNA HPV dipandang sebagai langkah penting untuk mendukung target eliminasi kanker leher rahim sesuai sasaran WHO.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menegaskan bahwa bukti implementasi di lapangan menjadi dasar penting dalam penyempurnaan kebijakan. “Studi ini memberi gambaran nyata bahwa skrining DNA HPV dapat diintegrasikan ke layanan primer melalui model hub-and-spoke. Ini akan menjadi rujukan dalam penyempurnaan kebijakan dan perluasan program secara nasional,” katanya.

Selain aspek teknis, studi juga menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia, pelatihan, serta peran kader di tingkat komunitas. Jhpiego Indonesia dan Bio Farma menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar skrining dapat berjalan konsisten dan menjangkau lebih banyak perempuan.

Ke depan, rekomendasi utama mencakup perluasan model hub-and-spoke, penguatan kapasitas laboratorium, integrasi pembiayaan ke dalam JKN, serta pemanfaatan sistem pencatatan digital untuk memantau layanan. Dengan kombinasi kebijakan, dukungan komunitas, dan kesiapan fasilitas, skrining DNA HPV diharapkan dapat menjadi bagian rutin dari layanan primer dan membantu menekan beban kanker leher rahim di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *