Inovasi Kesehatan Digital Baru Hadir dari Kolaborasi Peneliti Indonesia dan Monash University

Navaswara.com – Kolaborasi antara peneliti Monash University dan para pemimpin kesehatan Indonesia melahirkan perangkat inovasi digital yang dirancang untuk memperkuat transformasi layanan kesehatan nasional. Inisiatif ini menitikberatkan pada praktik kesehatan digital berbasis nilai agar teknologi benar-benar menghadirkan manfaat nyata bagi pasien maupun tenaga medis.

Perangkat bernama Value-Based Digital Health Innovation Canvas atau VDHIC dikembangkan oleh sembilan penerima program fellowship asal Indonesia dengan bimbingan peneliti kesehatan digital dari Monash University. Program tersebut mendapat dukungan pendanaan dari Department of Foreign Affairs and Trade Australia melalui skema Australia Awards Fellowships yang mendorong kolaborasi dan penguatan kapasitas antarnegara.

Australia Awards dikenal sebagai salah satu program fellowship internasional bergengsi yang dikelola Pemerintah Australia. Program ini bertujuan membangun jejaring kepemimpinan sekaligus memperkuat kemitraan antara lembaga di Australia dan organisasi mitra di berbagai kawasan, termasuk Indonesia.

VDHIC dirancang untuk membantu mengubah agenda kesehatan digital nasional menjadi solusi yang dapat diterapkan secara nyata di lapangan. Perangkat ini juga disusun agar selaras dengan platform data kesehatan nasional SATUSEHAT platform Indonesia serta kerangka uji coba inovasi melalui regulatory sandbox yang sedang dikembangkan pemerintah.

Panduan tersebut dapat digunakan rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan saat mengembangkan program kesehatan digital. Fokusnya berada pada lima sasaran utama yaitu peningkatan kesehatan populasi, pengalaman pasien, kepuasan tenaga kesehatan, efisiensi biaya layanan, serta pemerataan akses kesehatan.

Sebagai pemimpin kolaborasi, Juliana Sutanto dari Fakultas Teknologi Informasi Monash University mengatakan VDHIC mendorong perubahan cara pandang terhadap digitalisasi layanan kesehatan.

“VDHIC membantu organisasi kesehatan, inovator, dan pembuat kebijakan di Indonesia melampaui sistem kewajiban pelaporan data menuju kesehatan digital berbasis nilai, di mana teknologi dan data menghadirkan manfaat nyata bagi pasien, tenaga medis, dan sistem kesehatan,” ujarnya.

Kerangka kerja ini dikembangkan melalui program Australia Awards Fellowships angkatan ke-20 yang diikuti tenaga medis, peneliti, serta anggota kelompok kerja teknis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Para peserta mengikuti program intensif bersama Monash University termasuk kunjungan ke sejumlah rumah sakit di Australia.

Dokter saraf dari Sulawesi Utara sekaligus penerima fellowship, Arthur Mawuntu, menilai kolaborasi ini penting agar reformasi kesehatan digital mencerminkan kebutuhan di berbagai wilayah Indonesia.

“Kesehatan digital harus mampu mengurangi beban kerja tenaga medis sekaligus meningkatkan mutu layanan, terutama di wilayah Indonesia Timur yang menghadapi tantangan konektivitas,” katanya.

Di tingkat kebijakan, penasihat teknologi kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Setiaji, menilai perangkat ini akan melengkapi upaya pemerintah membangun jalur inovasi kesehatan digital yang bertanggung jawab melalui skema regulatory sandbox.

Sementara itu Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, Eko Sulistijo, menegaskan bahwa interoperabilitas dan keamanan data tetap menjadi fondasi utama pengembangan ekosistem kesehatan digital nasional yang terhubung dengan SATUSEHAT platform Indonesia.

Toolkit VDHIC telah dipresentasikan kepada para penasihat di Monash University pada Februari lalu dan selanjutnya akan diserahkan kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai bagian dari pengembangan kebijakan kesehatan digital nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *