Lawan Narasi Generasi Rapuh, Program CekTemanSebelah 2.0 Tunjukkan Empati Remaja Indonesia Sangat Kuat

Navaswara.com – Label “generasi stroberi” atau generasi rapuh belakangan kerap dilekatkan pada remaja Indonesia. Namun, temuan terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) justru menunjukkan hal yang berbeda. Melalui eksperimen sosial bertajuk CekTemanSebelah 2.0: “Laporkan Kebaikan Teman”, terlihat bahwa tingkat empati remaja Indonesia berada pada level yang tinggi.

Program ini dipimpin oleh dr. Ray Wagiu Basrowi selaku Ketua HCC bersama Bunga Pelangi sebagai Direktur Eksekutif HCC. Hasil yang dirilis menghadirkan gambaran baru tentang karakter generasi muda saat ini.

1. Metode “Tootling” sebagai Alternatif Kebiasaan Mengadu

Jika selama ini praktik tattling identik dengan melaporkan kesalahan, program ini justru menggunakan metode tootling, yaitu melaporkan tindakan baik yang dilakukan teman. Selama 10 hari, para siswa diminta mencatat dan melaporkan perilaku positif yang mereka temui di lingkungan sekolah.

Eksperimen ini melibatkan 699 siswa SMA di Jakarta. Sebanyak 541 siswa menyelesaikan program hingga akhir. Dalam periode tersebut, terkumpul 4.710 laporan kebaikan, sebuah angka yang menunjukkan tingginya interaksi positif antarsiswa.

2. Peningkatan Empati Terlihat Signifikan

Data yang dihimpun tidak hanya mencatat jumlah laporan, tetapi juga perubahan perilaku. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang cukup besar dalam aspek psikologis peserta.

Empati dan sikap prososial meningkat hingga lima kali lipat. Kemampuan memahami sudut pandang orang lain juga naik hampir empat kali lipat. Selain itu, siswa yang aktif melaporkan kebaikan memiliki peluang sebelas kali lebih besar untuk mengalami perubahan positif dalam dirinya.

3. Pernyataan Pakar Perkuat Temuan

Ketua tim eksperimen, Ray Wagiu Basrowi, menilai hasil ini mampu mematahkan stigma yang berkembang di masyarakat.

“Di tengah narasi publik yang sering menggambarkan remaja Indonesia sebagai generasi yang rapuh, temuan ini menunjukkan bahwa mereka memiliki modal prososial dan empati yang kuat. Hal ini dapat diperkuat melalui intervensi sederhana di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Psikolog klinis Sulastry Pardede yang terlibat dalam program ini juga menyampaikan bahwa praktik tersebut membantu memperkuat solidaritas sekaligus menurunkan rasa tidak nyaman dalam diri individu.

4. Alasan di Balik Laporan Kebaikan

Motivasi siswa dalam melaporkan kebaikan beragam. Sebagian besar melakukannya sebagai bentuk apresiasi dan ungkapan terima kasih.

Sebanyak 77 persen siswa ingin menyampaikan terima kasih, 71 persen menjadikannya bentuk apresiasi, 50 persen ingin membalas kebaikan, dan 41 persen berharap dapat menginspirasi orang lain. Data juga menunjukkan bahwa siswa perempuan cenderung lebih sering melaporkan kebaikan kepada sesama perempuan.

5. Dampak Positif pada Proses Belajar

Selain berdampak pada kondisi emosional, perilaku ini juga berkaitan dengan peningkatan fokus belajar. Aktivitas melaporkan kebaikan diketahui memicu pelepasan dopamin, yang berperan dalam menurunkan tingkat stres sekaligus meningkatkan konsentrasi.

Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial yang positif dapat memberikan pengaruh nyata terhadap kualitas belajar siswa di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *