Navaswara.com – Indonesia sedang berlomba dengan waktu untuk memenuhi ambisi digitalnya. Di tengah bayang-bayang jurang kebutuhan 9 juta talenta digital pada 2030, realita di lapangan justru menunjukkan angka pengangguran lulusan vokasi yang masih tinggi akibat kesenjangan keterampilan. Menjawab kegelisahan tersebut, vivo Indonesia memanfaatkan momentum Hari Pendidikan Nasional untuk memperkuat program vivo NexGen Scholars guna memastikan generasi muda tidak hanya memegang ijazah, tetapi juga kompetensi yang dicari industri.
Program yang berjalan sejak 2025 ini memberikan akses pendidikan tinggi di bidang sains dan teknologi bagi 60 mahasiswa terpilih melalui jalur SNBP dan SNBT. Berkolaborasi dengan Hoshizora Foundation dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), inisiatif ini dirancang sebagai jembatan bagi para pemuda yang memiliki potensi besar namun terhalang keterbatasan ekonomi.
Melawan Keterbatasan Lewat Prestasi
Dampak nyata dari program ini tecermin dari kisah para penerimanya yang datang dari berbagai latar belakang menantang. Di Banyuwangi, Evan Eka Kurniawan, putra seorang pedagang kopi eceran, berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang dengan mencatatkan IPK 3,9. Kini, ia fokus mengembangkan aplikasi dan teknologi game yang membawa dampak positif.
Langkah serupa diambil oleh Zahra Adientya Putri dari Tulungagung dan Izzal Maula Al Faqiih dari Balikpapan. Bagi mereka, beasiswa ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan ruang untuk bertumbuh di tengah ujian hidup, mulai dari keterbatasan penghasilan orang tua hingga perjuangan beradaptasi sebagai perantau.
Ketekunan juga ditunjukkan oleh Ubayy Tsany Galiadupda yang sempat gagal dalam proyek machine learning namun bangkit hingga berhasil menciptakan chatbot AI untuk UMKM. Sementara itu, Arkan Maulana Rizki dari Kalimantan Tengah mengubah trauma perundungan masa sekolah menjadi motivasi untuk mendalami teknologi energi demi membangun usahanya sendiri.
Fokus pada Bidang Strategis
Guna memastikan relevansi dengan kebutuhan industri, program vivo NexGen Scholars menyasar enam bidang strategis yang menjadi tulang punggung transformasi digital saat ini. Keenam jurusan tersebut meliputi Teknik Informatika, Sains Data Terapan, Teknik Elektronika, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektro Industri, dan Teknologi Game.
Arga Simanjuntak, Public Relations Director vivo Indonesia, menekankan bahwa sinkronisasi antara kurikulum dan kebutuhan pasar adalah prioritas utama agar momentum Hari Pendidikan Nasional ini benar-benar memperkuat kesiapan talenta muda Indonesia.
Yudi Anwar, Executive Director Hoshizora Foundation, menambahkan bahwa rata-rata IPK mahasiswa program ini mencapai 3,41. Hal ini menunjukkan bahwa akses yang tepat dapat memicu produktivitas tinggi. Dengan kesiapan talenta di bidang spesifik seperti AI dan elektronika, Indonesia diharapkan mampu memperkecil kesenjangan digital dan mencetak generasi yang siap mengambil peran di masa depan.

