Navaswara.com — Suasana dialog nasional Hari Pendidikan Nasional 2026 terasa hangat sekaligus penuh perhatian pada masa depan anak-anak Indonesia. Di tengah meningkatnya tantangan dunia pendidikan, mulai dari perundungan hingga tekanan ruang digital, pemerintah menegaskan bahwa sekolah tidak boleh sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang aman yang menjaga mental, karakter, dan kebahagiaan murid.
Komitmen itu ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq dalam Dialog Nasional Hari Pendidikan Nasional bertema Sinergi Perlindungan Anak di Dunia Pendidikan: Gerakan Satuan Pendidikan Ramah Anak, Aman, dan Nyaman yang diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kamis (7/5/2026).
Dalam forum tersebut, Fajar menegaskan pemerintah hadir secara utuh membangun ekosistem pendidikan yang aman dan nyaman bagi seluruh murid di Indonesia. Salah satu langkah strategis dilakukan melalui penerbitan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Menurutnya, pendekatan yang dibangun tidak hanya berfokus pada perlindungan fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan kesehatan mental peserta didik.
“Sekolah merupakan etalase tempat kita membangun masa depan anak bangsa. Melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, kami menekankan bahwa rasa aman bukan hanya soal fisik, tapi juga kenyamanan mentalitas. Kolaborasi lintas sektor ini membuktikan bahwa negara hadir secara utuh untuk melindungi murid di mana pun mereka belajar,” tegas Fajar.
Ia menjelaskan, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi digital. Karena itu, sinergi lintas kementerian menjadi penting agar perlindungan anak dapat berjalan lebih efektif dan menyentuh seluruh aspek kehidupan murid.
Fajar menilai kerja sama antara Kemendikdasmen, Kementerian Agama (Kemenag), dan KemenPPPA memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan kepentingan terbaik bagi anak-anak Indonesia.
Menurutnya, sekolah yang sehat bukan hanya bebas dari kekerasan fisik, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan yang inklusif, ramah, dan mendukung tumbuh kembang mental anak secara positif.
Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun karakter generasi muda di tengah perubahan zaman. Selain mendorong kualitas pendidikan, gerakan ini diharapkan mampu memperkuat rasa aman murid dalam belajar, berinteraksi, hingga berkembang sesuai potensi mereka.
Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu perundungan dan kesehatan mental anak, langkah ini menjadi pesan kuat bahwa pendidikan nasional tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun ruang belajar yang manusiawi dan berkeadaban.
Melalui kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap budaya sekolah aman dan nyaman dapat menjadi gerakan bersama yang melibatkan guru, orang tua, komunitas, hingga masyarakat luas demi menciptakan masa depan pendidikan Indonesia yang lebih sehat, inklusif, dan berdaya saing.
Karena sejatinya, sekolah bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi ruang tumbuh bagi generasi penerus bangsa untuk merasa aman, dihargai, dan percaya diri menghadapi masa depan.

