Navaswara.com – Narasi mengenai AI yang akan menggantikan peran manusia bukan lagi sekadar bumbu film fiksi ilmiah, melainkan tantangan nyata yang dihadapi tenaga kerja kreatif saat ini. Namun, alih-alih terjebak dalam ketakutan akan disrupsi, industri sebenarnya tengah ditantang untuk menemukan kembali “ruh” yang hilang di balik kecanggihan perangkat lunak.
Berangkat dari realitas tersebut, IdeaFest 2026 resmi dibuka dengan misi besar: memastikan bahwa di balik setiap baris algoritma yang cerdas, tetap ada tangan manusia yang memegang kendali atas nilai-nilai kemanusiaan.
Festival industri kreatif tahunan terbesar di Indonesia, IdeaFest, bersiap menandai tonggak sejarah 15 tahun perjalanannya pada tahun ini. Mengambil lokasi utama di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 4-6 September 2026, ajang ini dipastikan akan kembali mempertemukan puluhan ribu insan kreatif, inovator, hingga pelaku bisnis dari seluruh penjuru tanah air.
Memasuki usia “remaja” bagi sebuah festival, IdeaFest 2026 tidak hanya berpusat di Ibu Kota. Tahun ini, penyelenggara mengonfirmasi akan kembali menyambangi Surabaya untuk kedua kalinya, serta menjalankan program kurasi bulanan bertajuk IdeaFriends. Langkah ini diambil sebagai komitmen untuk menjangkau ekosistem kreatif yang lebih luas di luar Jakarta.
Menakar Kembali Makna “Rehumanize”
Namun, di balik kemeriahan perayaan satu dekade lebih tersebut, IdeaFest tahun ini membawa pesan serius melalui tema besar “Rehumanize“. Tema ini muncul sebagai respons atas kegelisahan para pelaku industri terhadap dominasi teknologi yang semakin masif dalam dua tahun terakhir.
Co-chair dan Founder IdeaFest, Desy Bachir, menjelaskan bahwa “Rehumanize” adalah sebuah ajakan kolektif untuk mengembalikan manusia sebagai poros utama dalam setiap inovasi.
“Teknologi memang mendukung proses kita, tapi nilai-nilai seperti empati, intuisi, dan pemahaman budaya tetap menjadi domain eksklusif manusia. Di IdeaFest tahun ini, kami ingin menekankan bahwa teknologi seharusnya memperkuat kemanusiaan, bukan justru menggantikannya,” ungkap Desi dalam sesi konferensi pers, Kamis (14/5/2026).
Inovasi Dari “Sahabat AI” hingga Branding Bertujuan
Pesan mengenai kemanusiaan ini turut diamini oleh mitra strategis dari sektor telekomunikasi dan konsultan brand. Ovidia Nomia, Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison, menuturkan bahwa teknologi AI yang mereka kembangkan, seperti “Sahabat AI”, justru didesain untuk memahami konteks lokal Indonesia.
“Kami ingin AI itu bisa berbahasa daerah dan mengerti budaya kita, sehingga siapa pun, termasuk mereka yang di daerah, punya akses yang sama. Human touch tetap menjadi otak di balik teknologi ini,” ujar Ovi.
Sementara itu, Stephanie Regina, selaku Founder Haloka Group mengingatkan para pelaku bisnis bahwa esensi sebuah brand adalah menyelesaikan permasalahan manusia. Di era digital, kreativitas bertindak sebagai jembatan untuk mengubah hal-hal yang teknis dan penting menjadi sesuatu yang menarik dan berdampak secara emosional bagi audiens.
Pergeseran Algoritma: Mengutamakan Kejujuran
Menariknya, para praktisi konten melihat adanya kejenuhan terhadap konten yang hanya mengejar angka viralitas. Ian dari JakartaGo menyebutkan bahwa algoritma tahun 2026 cenderung lebih menghargai konten yang terasa “nyata” dan jujur.
“Audiens sekarang lebih suka hal-hal yang raw. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan gimmick. Jika sebuah pesan tidak memiliki dampak nyata bagi manusia, algoritma pun perlahan akan meninggalkannya,” kata Ian.
Menutup diskusi, Patrick Effendy dari Creative Prompt menekankan pentingnya konsep Human in the Loop. Menurutnya, tantangan terbesar bagi tenaga kerja kreatif saat ini bukanlah kehadiran AI, melainkan kecepatan manusia dalam beradaptasi.
“AI bisa membuat segalanya lebih cepat, tapi decision making tetap ada di tangan manusia. Siapa yang bisa beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan esensi kemanusiaannya, dialah yang akan bertahan,” pungkas Patrick.

