Navaswara.com – Di tengah derasnya arus informasi digital dan semakin masifnya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu keterampilan yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini. Pesan itulah yang disampaikan Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ), Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., dalam Seminar Kebangsaan yang digelar di Auditorium Bhinneka Tunggal Ika UPNVJ, Jumat (5/6/2026).
Dalam paparannya yang bertajuk “Siasat Komunikologis atas Banjir Informasi di Era Digital dan AI”, Venus mengajak peserta untuk melihat fenomena digital secara lebih jernih dan kritis. Menurutnya, kemudahan mengakses informasi belum tentu menjadikan masyarakat lebih bijak dalam memahami persoalan atau mengambil keputusan.
“Kita hidup di era ketika informasi hadir tanpa henti. Namun pertanyaannya, apakah semakin banyak informasi yang kita konsumsi membuat kita semakin memahami dunia dengan lebih baik?” ungkapnya.
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika melihat kebiasaan masyarakat digital saat ini. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa konsumsi informasi masyarakat mencapai puluhan gigabita per hari. Rata-rata penggunaan internet berlangsung sekitar enam jam setiap hari, sementara akses media sosial menghabiskan waktu hampir empat jam dalam sehari.
Di saat yang sama, penggunaan teknologi AI juga berkembang sangat cepat. Generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial, menjadi kelompok yang paling aktif memanfaatkan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Venus, perkembangan teknologi memang membuka banyak peluang positif. Informasi dapat diperoleh lebih cepat, partisipasi publik meningkat, dan masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai pengetahuan.

Namun di balik manfaat tersebut, muncul tantangan baru yang tidak kalah serius. Kelimpahan informasi dapat berubah menjadi information overload, yakni kondisi ketika seseorang menerima begitu banyak informasi hingga mengalami kesulitan dalam memilah, memahami, dan mengambil keputusan secara tepat.
Fenomena ini semakin kompleks karena masyarakat tidak hanya berhadapan dengan informasi yang benar, tetapi juga misinformasi, disinformasi, hoaks, berita palsu, hingga fenomena post-truth yang membuat batas antara fakta dan opini menjadi semakin kabur.
“Banjir informasi bukan hanya soal jumlah informasi yang banyak, tetapi juga tentang kualitas informasi yang kita konsumsi setiap hari,” jelasnya.
Venus juga menyoroti berbagai fenomena yang kini akrab di kehidupan digital, seperti filter bubble, echo chamber, hingga fear of missing out (FOMO). Tanpa disadari, algoritma media sosial cenderung menyajikan informasi yang sesuai dengan minat dan keyakinan pengguna. Akibatnya, masyarakat semakin jarang terpapar pandangan yang berbeda dan lebih mudah terjebak dalam polarisasi.
Dalam kondisi tersebut, algoritma tidak lagi sekadar menjadi alat bantu pencarian informasi. Algoritma perlahan membentuk cara manusia melihat realitas sosial.
Menurut Venus, media dan platform digital saat ini memiliki kekuatan besar dalam membangun persepsi publik melalui proses pemilihan, pengulangan, dan penyebaran informasi. Ketika seluruh proses tersebut dikendalikan oleh algoritma, masyarakat berisiko menerima realitas yang sudah dikurasi berdasarkan rekam jejak digital dan preferensi pribadi mereka.
Ia mengutip pemikiran sejarawan dan futuris Yuval Noah Harari yang menyatakan bahwa informasi bukan sekadar hasil pengolahan data, melainkan juga mampu menciptakan realitas sosial melalui imajinasi kolektif masyarakat.
Karena itu, siapa yang mengendalikan arus informasi pada akhirnya juga memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami berbagai persoalan publik.
“Teknologi harus membantu manusia menjadi lebih baik, bukan justru membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir secara mandiri,” tegas Venus.
Menghadapi tantangan tersebut, Venus menilai literasi digital harus dimaknai lebih luas. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan untuk memverifikasi informasi, memahami konteks, mengenali manipulasi, serta menilai kredibilitas sumber informasi.
Ia mendorong masyarakat untuk membiasakan diri memeriksa fakta sebelum membagikan informasi, membandingkan berbagai sumber, serta tidak mudah percaya pada konten yang hanya mengandalkan sensasi atau emosi.
Selain itu, penggunaan AI juga harus disertai tanggung jawab dan etika. Pengguna perlu memahami bahwa teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.
Venus juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan digital melalui pengaturan waktu penggunaan gawai, memperluas sumber informasi, melakukan detoksifikasi digital secara berkala, serta meningkatkan kesadaran dalam melindungi data pribadi.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting. Disinformasi yang tidak terkendali dapat memicu konflik sosial, memperkuat polarisasi, menurunkan kepercayaan publik, bahkan mengancam persatuan nasional.
Karena itu, membangun masyarakat yang cerdas secara digital tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau institusi pendidikan, tetapi juga seluruh elemen bangsa.
Melalui Seminar Kebangsaan ini, UPNVJ kembali menegaskan perannya sebagai Kampus Bela Negara yang berkomitmen mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan, kecakapan digital, serta kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi yang terus melaju, kemampuan untuk memilah fakta, menjaga kejernihan berpikir, serta menggunakan teknologi secara bijak menjadi salah satu bentuk bela negara yang relevan bagi generasi masa kini.
