Hari Lingkungan Hidup 2026, BNI Perkuat Komitmen Menuju Ekonomi Hijau dan Rendah Karbon

Navaswara.com – Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa tantangan perubahan iklim tidak lagi menjadi isu masa depan, melainkan realitas yang harus dihadapi bersama saat ini. Menyikapi hal tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui berbagai inisiatif yang berorientasi pada pelestarian lingkungan, penguatan ekonomi hijau, serta pengendalian perubahan iklim.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup tahun ini mengusung tema global #NowForClimate, yang menekankan pentingnya aksi nyata dalam menghadapi krisis lingkungan global. Tema tersebut menjadi seruan bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor keuangan, untuk mengambil peran aktif dalam mengatasi tantangan perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya polusi yang kini dikenal sebagai Triple Planetary Crisis.

Di Indonesia, semangat tersebut diterjemahkan melalui tema nasional “Saatnya Bekerja untuk Iklim”, yang menegaskan bahwa menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui kampanye dan kesadaran publik, tetapi harus diwujudkan melalui langkah konkret yang memberikan dampak nyata bagi bumi dan generasi mendatang.

Sebagai salah satu institusi keuangan terbesar di Indonesia, BNI memandang sektor perbankan memiliki posisi strategis dalam mendorong transformasi menuju pembangunan yang lebih berkelanjutan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang menjadi bagian dari strategi bisnis dan operasional perusahaan.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan.

“Sebagai institusi keuangan nasional, BNI percaya bahwa pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Karena itu, kami terus memperkuat berbagai program yang mendukung keberlanjutan serta mendorong keterlibatan seluruh pemangku kepentingan dalam aksi nyata menjaga bumi,” ujarnya.

Komitmen tersebut sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Dalam mendukung target nasional tersebut, BNI menetapkan target NZE untuk emisi operasional atau Scope 1 dan Scope 2 pada tahun 2028, serta target NZE Scope 3 yang mencakup pembiayaan pada tahun 2060.

Di sektor bisnis, BNI terus memperluas pembiayaan berkelanjutan melalui berbagai instrumen keuangan hijau. Perseroan juga menyelaraskan proses penilaian debitur dengan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI), terutama pada sektor-sektor yang memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan seperti energi, konstruksi, real estat, transportasi, logistik, kehutanan, dan perkebunan.

Selain pembiayaan hijau, BNI juga mengembangkan pembiayaan transisi melalui skema Sustainability Linked Loan (SLL) serta memperkuat pendanaan berkelanjutan melalui penerbitan Sustainability Bond yang dilakukan pada tahun 2025.

Komitmen keberlanjutan BNI juga menyentuh sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui program Jejak Kopi Khatulistiwa (JKK) dan BNI UMKM Ramah Lingkungan (BUMI), perseroan mendorong pelaku usaha untuk menerapkan praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga membangun ekosistem usaha hijau yang mendukung proses produksi berkelanjutan dan menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Di sisi operasional, BNI terus memperkuat budaya kerja berkelanjutan melalui efisiensi energi, digitalisasi proses bisnis, pengurangan penggunaan kertas, hingga pengelolaan limbah berbasis prinsip Zero Waste to Landfill. Upaya ini dilakukan untuk menekan jejak karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

Menariknya, seluruh limbah operasional yang dihasilkan dari Gedung Kantor Pusat BNI saat ini telah diolah melalui proses daur ulang sehingga tidak berakhir di tempat pembuangan akhir.

Tidak hanya fokus pada pembiayaan dan operasional, BNI juga aktif mendukung ketahanan lingkungan melalui berbagai program rehabilitasi ekosistem yang melibatkan masyarakat. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah rehabilitasi lahan kritis di kawasan Hutan Organik Megamendung, Kabupaten Bogor.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BNI Berbagi, sejak tahun 2018 BNI telah mendukung rehabilitasi lahan seluas 10 hektare dengan penanaman 10.000 pohon. Upaya tersebut kini menunjukkan hasil positif dengan tumbuhnya ribuan pohon yang berkontribusi terhadap penyerapan karbon, menjaga ketersediaan sumber air, serta membantu mengurangi risiko longsor di kawasan tersebut.

Selain itu, BNI juga meluncurkan advisory playbook pertama di Indonesia untuk sektor perkebunan kelapa sawit. Inisiatif ini bertujuan membantu debitur melakukan transisi menuju praktik bisnis yang lebih hijau sekaligus meningkatkan ketahanan usaha terhadap risiko perubahan iklim.

Bagi BNI, pembangunan berkelanjutan bukan sekadar bagian dari strategi bisnis, tetapi juga tanggung jawab bersama dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, memiliki arti penting dalam menjaga masa depan bumi. Melalui kolaborasi yang kuat antara dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat, harapan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan ekonomi rendah karbon bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.

“Momentum ini menjadi kesempatan bagi kita semua untuk memperkuat kolaborasi dan memperluas aksi nyata dalam menjaga lingkungan. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar bagi keberlanjutan bumi dan kualitas hidup generasi mendatang,” tutup Okki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *