KPPB Gelar Seminar Kesehatan Mental, Ajak Perempuan Temukan Makna Hidup

Navaswara.com – Di balik kesibukan mengejar karier, mengurus keluarga, hingga memenuhi berbagai tuntutan kehidupan, tak sedikit perempuan yang diam-diam menyimpan rasa lelah, kesepian, bahkan kehampaan. Ironisnya, perasaan itu kerap hadir ketika hidup terlihat “baik-baik saja” dari luar.

Berangkat dari kenyataan tersebut, Yayasan Komunitas Perempuan Peduli dan Berbagi (KPPB) menggelar seminar inspiratif bertajuk “When Life Feels Empty: Menemukan Makna, Koneksi, dan Diri Sendiri di Tengah Kesibukan Hidup” di Four Seasons Hotel Jakarta, Jumat (24/7). Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari perempuan profesional, entrepreneur, komunitas, dan masyarakat umum.

KPPB sendiri didirikan oleh Meiline Tenardi sebagai wadah yang menghadirkan ruang belajar, berbagi, dan saling menguatkan bagi perempuan Indonesia.

Ketua Yayasan KPPB, Meiline Tenardi, mengatakan seminar ini lahir dari kegelisahan melihat semakin banyak perempuan yang berhasil dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi tetap merasa kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri.

“Sering kali kita sibuk merawat hubungan dengan pasangan, anak, keluarga, sahabat, maupun rekan kerja. Padahal ada satu hubungan yang tidak kalah penting untuk dijaga dan dirawat, yaitu hubungan dengan diri sendiri. Ketika kita kehilangan koneksi dengan diri, di situlah rasa kosong, lelah, dan kehilangan makna mulai muncul,” ujar Meiline.

Menurutnya, kesehatan mental dan emosional perlu mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan kesehatan fisik. Karena itu, KPPB ingin menghadirkan ruang yang aman dan hangat agar perempuan dapat berhenti sejenak, mengenali dirinya, sekaligus menemukan kembali makna hidup.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kesehatan secara holistik, yang mencakup kesehatan fisik, mental, dan emosional. Semoga semakin banyak perempuan Indonesia yang dapat menjalani hidup yang lebih sehat, bahagia, dan bermakna,” tambahnya.

Dalam seminar tersebut, peserta diajak memahami berbagai penyebab munculnya rasa kesepian dan kehampaan melalui sudut pandang psikologi bersama Ratih Ibrahim, Senior Clinical Psychologist, Mental Health & Parenting Expert sekaligus Founder dan CEO Personal Growth.

Ratih menjelaskan, rasa sepi tidak selalu berarti seseorang sedang sendirian. Seseorang bisa berada di tengah keramaian, memiliki keluarga, pekerjaan, bahkan lingkungan sosial yang aktif, tetapi tetap merasakan kehampaan.

Loneliness bukan hanya soal tidak punya teman. Seseorang bisa merasa sangat kesepian meski dikelilingi banyak orang. Empty feeling adalah ketika kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri, dengan orang lain, bahkan dengan nilai atau tujuan hidup kita,” jelas Ratih.

Ia juga mengingatkan bahwa tekanan emosional sering kali memberikan sinyal melalui tubuh. Napas menjadi lebih pendek, bahu terasa tegang, hingga tubuh sulit rileks karena sistem saraf terus berada dalam kondisi siaga.

Untuk membantu peserta lebih memahami hubungan antara tubuh dan emosi, sesi berikutnya dipandu oleh Ineke Machdi, seorang Breathwork Facilitator. Melalui latihan pernapasan sederhana, peserta diajak mengembalikan tubuh ke kondisi yang lebih tenang.

“Tarik napas melalui hidung, lalu keluarkan kembali melalui hidung secara perlahan. Sesederhana itu, tetapi ketika dilakukan dengan sadar, tubuh mulai merasa aman dan lebih rileks,” ujar Ineke saat memandu sesi breathwork.

Sementara itu, Antaresa Hendita, Counselling Practitioner, mengajak peserta melihat kembali pentingnya membangun hubungan yang sehat dengan diri sendiri. Menurutnya, banyak persoalan emosional berawal dari kurangnya kesadaran terhadap kebutuhan diri dan minimnya ruang untuk melakukan refleksi.

Melalui seminar ini, KPPB berharap semakin banyak perempuan berani mengakui bahwa merasa lelah, kesepian, atau kehilangan arah bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, hal tersebut dapat menjadi titik awal untuk kembali mengenali diri, membangun koneksi yang lebih sehat, dan menemukan makna baru dalam menjalani kehidupan.

Turut hadir dalam acara tersebut, pengusaha dan perancang Indonesia Poppy Dharsono. Ia menilai seminar yang diselenggarakan KPPB sangat relevan dengan kondisi banyak perempuan, khususnya mereka yang memasuki fase ketika anak-anak mulai beranjak dewasa sehingga merasa perannya mulai berkurang.

“Menurut saya, acara ini luar biasa karena sangat bermakna dan memang dibutuhkan oleh perempuan-perempuan yang anak-anaknya mulai beranjak besar sehingga mereka mulai merasa tidak lagi berguna. Padahal, perasaan itu sering muncul karena dulu mereka terlalu fokus pada keluarga sehingga tidak melihat peluang di luar,” ujar Poppy.

Menurutnya, perempuan masih memiliki banyak kesempatan untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat. “Sebenarnya masih banyak sekali hal yang bisa dikerjakan dalam kehidupan ini. Jadilah perempuan yang bertanggung jawab, bukan hanya di dalam keluarga, tetapi juga di komunitas, masyarakat, bahkan bagi kehidupan berbangsa,” katanya.

Poppy juga mengapresiasi keberanian KPPB mengangkat isu kesehatan mental perempuan yang selama ini masih jarang dibicarakan secara terbuka. Ia menilai seminar seperti ini sangat dibutuhkan oleh perempuan yang mengalami rasa kesepian (loneliness) maupun kehampaan (emptiness).

“Sekali lagi saya katakan, acara ini sangat bagus karena sangat dibutuhkan oleh banyak perempuan yang mengalami masalah loneliness atau emptiness. Ke depannya, saya yakin KPPB dapat terus mengangkat isu-isu penting yang bermanfaat bagi perempuan,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah berbagai peran yang dijalani perempuan setiap hari, ada satu sosok yang juga layak mendapat perhatian dan kasih sayang, yakni diri sendiri. Melalui ruang belajar, refleksi, dan saling berbagi seperti yang dihadirkan KPPB, diharapkan semakin banyak perempuan mampu membangun kembali hubungan yang sehat dengan dirinya, menemukan makna hidup, serta terus berkarya dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.