Navaswara.com – Sebuah rumah mungil tipe 21 berdiri sunyi di salah satu sudut Kota Solo. Luas tanahnya tak lebih dari 70 meter persegi. Di bangunan itulah, kenangan tentang seorang prajurit Bintara tinggi Kopassus dirawat dengan penuh takzim.
Bagi sang penghuni, seorang ibu rumah tangga bernama Tety Rohaety, rumah itu bukanlah sebatas tembok dan atap. “Ini rumah dari hasil keringat bapakmu,” ujar Tety ketika sang putra yang memintanya meninggalkan rumah penuh kenangan tersebut dan tinggal bersamanya.
Sebuah kalimat sederhana yang membentengi keluarganya dari kemewahan semu, sekaligus mematri ingatan tentang perjuangan panjang sang suami, Dada Hardiana, yang telah berpulang tiga hari sebelum pensiun pada 2015 silam.
Siapa sangka, dari rumah sepetak itu lahir sosok yang kini memegang kendali atas kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Rudy Susmanto, pria yang lahir di Sukoharjo pada 15 Agustus 1985, kini mengemban amanah sebagai Bupati Bogor.
Namun, jika merunut jejak langkah dan lompatan kariernya yang terbilang melesat pesat, kunci utama dari raihan puncak kesuksesannya hari ini bukanlah semata kepiawaian bertarung di panggung politik, melainkan buah dari bakti dan kepatuhannya yang tak bertepi kepada kedua orang tuanya.
Nama Khas Baret Merah dan Darah Pangeran Sugih
Mendengar nama Rudy Susmanto, publik hampir pasti mengidentifikasikannya sebagai putra kandung Tanah Jawa. Pemikiran itu tak sepenuhnya keliru, sebab Rudy memang lahir dan tumbuh di kawasan Solo, saat sang ayah tengah berdinas di kesatuan baret merah yang kala itu berganti-ganti nama dari RPKAD, Puspasus, Kopasanda, hingga kini Kopassus.
Namun, di balik ejaan namanya, tersimpan jalinan takdir dan identitas yang unik.
“Saya lahir di Sukoharjo karena ayah saya saat itu berdinas di Solo. Apalagi nama panjang saya Susmanto, orang sudah pasti bilangnya saya orang Jawa, tetapi orang tua saya dari Jawa Barat. Makanya diajak ngomong bahasa Jawa nyambung, diajak ngomong bahasa Sunda bisa,” ujarnya dalam podcast Bincang bersama Navaswara, di Kantor Bupati Bogor, belum lama ini.
Nama “Susmanto” sendiri bukan nama Jawa biasa. Ada kode dinas ketentaraan yang diselipkan sang ayah di sana, yakni Sus merujuk pada Kopassus dan Man merupakan kepanjangan dari pemantapan.
Bila ditelisik lebih jauh, dalam tubuh anak tentara ini mengalir darah priyayi dan pejuang Sunda yang kuat. Sang ayah, Dada Hardiana, merupakan pria asal Majalaya, Bandung Selatan. Sementara sang ibu, Tety Rohaety, berasal dari Cimalaka, Sumedang. Dari garis ibundanya inilah, jejak silsilah Rudy tersambung hingga ke Trah Bupati Sumedang pertama, Suria Kusumah Adinata, yang populer dikenal sebagai Pangeran Sugih, penguasa Sumedang era 1836–1882.
Darah Pejuang di Bumi Tegar Beriman
Meski memiliki garis keturunan bangsawan Sunda, masa kecil Rudy jauh dari gelimang kemewahan. Ayahnya meniti karier tentara dari pangkat paling bawah, prajurit dua hingga pensiun sebagai Pembantu Letnan Satu (Peltu) di Grup 2 Kopassus Kandang Menjangan. Perpisahan bertahun-tahun karena tugas negara ke medan konflik Timor Timur, Papua, hingga Aceh, menjadi bagian dari jalan hidupnya.
“Sesulit apa pun hidup saat itu, tidak pernah ada keluhan kekurangan yang keluar dari mulut orang tua,” kenang suami dari Eva Marthiana ini.
Ketaatan dan rasa hormat yang ia tanamkan sejak kecil kepada sang ayah dan ibu menjadi fondasi tak kasat mata yang melapangkan jalannya. Belum genap satu dekade ditinggal sang ayah, Rudy terjun ke panggung politik lewat Pemilu Legislatif 2019 dan langsung dipercaya menduduki kursi Ketua DPRD Kabupaten Bogor. Lima tahun berselang, ia memenangi Pilkada Bogor dengan raihan lebih dari 1,5 juta suara, rekor pencapaian suara pilkada tertinggi se-Indonesia.
Bagi Rudy, segala pencapaian spektakuler itu adalah buah manis dari cara ia memuliakan orang tua. Karier, kepintaran, dan kerja keras baginya hanyalah ikhtiar pembuka, sementara kunci pintu keberhasilan sejatinya digenggam oleh restu ayah dan ibu.
“Ibu dan Bapak adalah pusaka hidup. Di saat sekarang saya sudah bisa membeli mobil, punya rumah, dan motor, Ayah saya sudah tiada. Pusaka hidup saya tinggal satu, yaitu Ibu,” ia menggarisbawahi.
Air Basuhan dan ‘Senjata’ Baru
Bakti itu tercermin nyata dalam ritual bersahaja yang saban hari dilakukan sang Bupati tatkala sang ibu berkunjung ke kediamannya. Rudy kerap menyiapkan satu galon air bersih, meminta sang ibu membasuh diri seraya memanjatkan doa. Air bekas tampungan mandi ibundanya itulah yang kemudian ia gunakan untuk membasuh tubuhnya sendiri sebagai bentuk penghormatan dan pencarian rida.
“Bagi saya, bekas air mandi Ibu adalah obat dan berkah luar biasa yang mendatangkan rida Allah dalam perjalanan hidup saya. Kalau kamu tidak menghormati orang tuamu, kehancuran tinggal menghitung hari. Tapi jika kamu memuliakan mereka seperti pusaka hidup, pintu kesuksesan sedang menunggumu,” ungkap ayam empat anak ini.r
Sentuhan spiritual dan nilai bakti itu kini mewarnai kepemimpinannya di wilayah bernyawa lebih dari 6,1 juta jiwa tersebut. Jika sang ayah dulu memanggul senjata masuk hutan melawan pemberontak, Rudy memandang jabatannya sebagai perpanjangan bakti sosial, yakni berperang mengentaskan kemiskinan serta menjamin fasilitas kesehatan dan pendidikan yang layak bagi masyarakat.
Meski angka kemiskinan berhasil ditekan dari 8 persen ke angka 6 persen, Rudy sadar betul bahwa 6 persen di Bogor masih mewakili sekitar 400.000 jiwa yang butuh uluran tangan.
Melawan Sinisme Politik
Di tengah gelombang puji dan kritik publik, Rudy tetap tenang berpegang pada nilai-nilai dasar kepemimpinan yang diajarkan keluarga. Menjawab sinisme terhadap dunia politik, ia berargumen secara lugas:
“Yang kotor dan busuk itu manusianya, bukan sistemnya. Jika merasa roda pemerintahan ada yang kurang baik, turunlah dan datang. Mari kita berdiskusi, bukan berteriak atau represif. Sudahi saling menjatuhkan di media sosial. Simbol negara itu ibarat baju yang kita pakai bersama. Kalau kita telanjangi di ruang publik, negara lain hanya akan menertawakan kita,” tegasnya.
Satu tahun empat bulan menahkodai Bogor bersama wakilnya, Adi Ruhandi, Rudy sadar tak bisa memuaskan semua kepala. Namun, berbekal nilai keikhlasan yang diwariskan orang tuanya, ia berjanji akan mempertaruhkan seluruh energi yang dimilikinya hingga sisa masa jabatan.
“Kami memohon maaf jika belum bisa membahagiakan semua pihak. Tapi percayalah, jiwa dan raga kami tulus ikhlas membenahi Bogor. Benteng pertahanan terakhir bangsa kita adalah persatuan. Kita bangun Indonesia mulai dari Bogor,” pungkas sang anak prajurit menutup perbincangan.

