UPNVJ Dampingi Mahasiswa Difabel Netra, Wujud Nyata Kampus Inklusif yang Tak Meninggalkan Siapa Pun

Navaswara – Hari pertama kuliah sering kali menjadi momen yang penuh rasa penasaran sekaligus kegugupan bagi setiap mahasiswa baru. Mengenal lingkungan kampus, mencari ruang kelas, beradaptasi dengan dosen, hingga membangun pertemanan menjadi pengalaman yang hampir selalu dialami. Namun, bagi Shalma Arsyta Noorsyarif, langkah pertama memasuki dunia perkuliahan memiliki tantangan yang lebih besar.

Mahasiswa baru Program Studi S-1 Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) itu merupakan penyandang disabilitas netra yang berhasil diterima melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Alih-alih membiarkannya berjuang sendiri, UPNVJ justru menyiapkan sistem pendampingan sejak hari pertama agar proses adaptasi berjalan lebih nyaman.

Selama satu hingga dua minggu pertama perkuliahan, Shalma akan didampingi oleh Unit Layanan Disabilitas (ULD) UPNVJ. Pendampingan tersebut bukan hanya untuk mengenalkan lokasi ruang kuliah atau fasilitas kampus, tetapi juga membantu membangun interaksi sosial, mengenali sistem pembelajaran, hingga memastikan seluruh kebutuhan akademiknya dapat dipenuhi sejak awal.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pembelajaran (LPMPP) UPNVJ, Satria Yudhia Wijaya, S.E., M.S.Ak., saat menerima kunjungan Shalma bersama kedua orang tuanya.

Menurut Satria, masa adaptasi menjadi tahapan penting untuk memetakan kebutuhan pembelajaran sehingga mahasiswa dapat mengikuti proses akademik secara optimal tanpa hambatan yang tidak perlu.

Unit Layanan Disabilitas yang berada di bawah koordinasi Pusat Pengembangan Pembelajaran LPMPP nantinya akan membantu Shalma mengenali lingkungan kampus, fasilitas, aktivitas kemahasiswaan, hingga berbagai bentuk dukungan akademik yang dapat dimanfaatkan selama menjalani studi.

Bagi Shalma, kemandirian sebenarnya bukan hal baru. Sejak duduk di bangku kelas V sekolah dasar, ia telah terbiasa belajar secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai teknologi digital. Kemampuan mendengarkan yang dimilikinya menjadi kekuatan utama dalam memahami materi pelajaran sekaligus membangun komunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

Semangat itulah yang akhirnya membawanya diterima di UPNVJ melalui jalur prestasi.

Perjalanan menuju bangku kuliah tidak selalu dipenuhi rasa percaya diri. Dalam kesempatan sebelumnya, Shalma mengaku sempat meragukan kemampuannya ketika mengikuti SNBP karena merasa bukan termasuk siswa dengan peringkat akademik tertinggi di sekolah.

Namun dukungan keluarga dan sahabat membuatnya terus melangkah. Ia memilih percaya bahwa setiap orang memiliki kelebihan yang dapat menjadi jalan menuju cita-cita.

Kini, setelah resmi menjadi mahasiswa UPNVJ, harapannya sederhana namun bermakna. Ia ingin diterima sebagai bagian dari keluarga besar kampus, memiliki teman-teman yang baik, sekaligus mampu mengukir prestasi selama menempuh pendidikan.

“Saya berharap bisa mendapatkan teman-teman yang baik dan lingkungan yang menerima saya. Saya juga ingin berkontribusi untuk kampus dan meraih prestasi terbaik,” ujar Shalma.

Kehadiran Shalma sekaligus menjadi cerminan perjalanan UPNVJ dalam membangun budaya kampus yang semakin inklusif. Pada 1 Desember 2025, universitas ini meresmikan Unit Layanan Disabilitas sebagai pusat layanan yang memberikan pendampingan, edukasi, advokasi, serta dukungan akademik bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

Keberadaan ULD tidak hanya membantu mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang bagi dosen dan tenaga kependidikan untuk memahami praktik pendidikan yang lebih inklusif. Berbagai penyesuaian dalam proses pembelajaran, evaluasi, hingga penyediaan fasilitas kampus terus dikembangkan agar seluruh mahasiswa memperoleh kesempatan belajar yang setara.

Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, M.A., Comm., sebelumnya menegaskan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh hanya mengejar capaian akademik semata. Kampus juga harus menjadi ruang yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk berkembang.

“Kami tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga membangun ekosistem inklusif yang memberikan kesempatan adil bagi setiap mahasiswa,” tegasnya saat meresmikan Unit Layanan Disabilitas UPNVJ.

Komitmen tersebut kini tidak lagi berhenti sebagai kebijakan di atas kertas. Pendampingan yang diberikan kepada Shalma menjadi bukti bahwa pendidikan inklusif diwujudkan melalui langkah-langkah nyata, dimulai dari mendengarkan kebutuhan mahasiswa, menyediakan dukungan yang tepat, hingga menciptakan lingkungan belajar yang menghargai setiap perbedaan.

Di tengah semakin besarnya tuntutan dunia pendidikan untuk menghadirkan akses yang setara bagi semua, UPNVJ menunjukkan bahwa sebuah kampus tidak hanya dinilai dari kualitas akademiknya, tetapi juga dari kemampuannya memastikan tidak ada satu pun mahasiswa yang tertinggal hanya karena kondisi yang dimilikinya. Di situlah makna sesungguhnya dari kampus yang inklusif, tempat setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bertumbuh, dan menggapai masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *