Navaswara.com – Setiap generasi meninggalkan jejaknya sendiri pada tradisi. Ada yang mempertahankan bentuk lama, ada pula yang menghadirkan tafsir baru sehingga warisan budaya tetap terasa dekat dengan kehidupan masa kini. Perspektif tersebut menjadi benang merah Kawan Nusantara 2026.
Mengusung tema “EVOLUSI: Heritage and Craft as a Vessel of Light and Wisdom”, perhelatan yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026 di Nusantara Ballroom, The Dharmawangsa, Jakarta, mengajak publik melihat perjalanan warisan budaya sebagai sesuatu yang terus berkembang tanpa kehilangan nilai asalnya.
Pendiri sekaligus Creative Conceptor TULOLA, Happy Salma, mengatakan tema EVOLUSI lahir dari keyakinan bahwa tradisi tetap hidup karena terus dimaknai ulang oleh manusia. Menurutnya, pameran ini ingin menunjukkan bagaimana keterampilan, nilai leluhur, dan budaya terus menemukan bentuk baru mengikuti perubahan zaman.
Narasi tersebut diterjemahkan melalui instalasi yang mengangkat perjalanan subeng, ornamen telinga tradisional Bali, selama berabad-abad. Pengunjung diajak mengikuti perubahan fungsi, bentuk, material, hingga pendekatan desain yang mencerminkan perkembangan sebuah artefak budaya dari masa ke masa.
Founder sekaligus Creative Designer TULOLA, Sri Luce Rusna, menjelaskan riset mengenai subeng menjadi dasar proses kreatif tahun ini. Perhiasan, menurutnya, selalu merekam perubahan zaman, sehingga perjalanan subeng dipilih sebagai representasi hubungan antara tradisi dan kehidupan masyarakat yang terus bergerak.
Instalasi dibagi ke dalam empat tahapan, yakni Persembahan, Ekspresi, Nilai, dan Transformasi. Setiap fase menghadirkan simbol visual berbeda, mulai dari inspirasi arsitektur padma sebagai ruang persembahan, bunga lotus yang merepresentasikan perkembangan seni ukir, motif keranjang sebagai simbol aktivitas ekonomi, hingga elemen tipografi bertuliskan “Evolusi” yang menggambarkan perubahan tanpa putus.
Selain instalasi, acara ini juga memperkenalkan koleksi artwear bertajuk EVOLUSI yang terdiri atas 48 karya, mulai dari anting, subeng, bros, sirkam, kalung, hingga gelang. Seluruh koleksi memadukan teknik kriya perhiasan Nusantara dengan motif Canang, Macan, Sinar, Bunga, dan Kupu-kupu yang menggambarkan perjalanan transformasi budaya.
“Kami percaya tradisi selalu hidup karena manusia terus memaknainya kembali. EVOLUSI adalah pameran tentang bagaimana tradisi, keterampilan, dan nilai-nilai leluhur terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan jiwanya. Melalui Kawan Nusantara, kami ingin mengajak masyarakat melihat bagaimana warisan budaya terus bertumbuh mengikuti zaman,” ujar Happy Salma.
Kawan Nusantara 2026 turut menghadirkan sembilan jenama kreatif Indonesia, antara lain Camani, Ella & Glo, Glashka, Jeffry Tan, Roemah Kebaya Vielga, serta sejumlah pelaku usaha binaan Bakti BCA seperti Marista Santividya, Perajin Perak Desa Wisata Taro, Koperasi Konsumen Uma Tinung Kambata, Linette Bags, Nail Art by MUA Tuli Bakti BCA, dan Wastraloka.
Pameran juga menampilkan Heroes of Heritage, yang memperlihatkan hasil kolaborasi TULOLA bersama perajin perak Desa Wisata Taro, Bali, I Made Suama dan Ketut Daging. Koleksi tersebut memperlihatkan keahlian dalam membuat pratima atau benda suci, sekaligus menghadirkan Keris Pusaka “Keris Wibawa Gunung Raung” karya I Komang Sudena sebagai bagian dari perjalanan panjang kriya logam Bali.
Melalui kolaborasi ini, penyelenggara menghadirkan ruang yang mempertemukan pelaku kriya, desainer, perajin, dan masyarakat dalam satu narasi. Tradisi pun hadir sebagai sesuatu yang terus bertumbuh, mengikuti perubahan zaman sekaligus menjaga jejak nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

