Rencana Besar Menantu Trump Ubah Wajah Gaza Jadi ‘Dubai’ Mediterania

Navaswara.com – Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kembali mencuri perhatian dunia. Di panggung Forum Ekonomi Dunia (WEF), Davos,  Swiss, Kushner memaparkan visinya untuk masa depan Gaza pascaperang. Menurutnya, rekonstruksi Gaza merupakan satu-satunya jalan yang harus ditempuh.

Presentasi tersebut muncul tak lama setelah penandatanganan piagam Dewan Perdamaian yang diinisiasi Trump. Langkah ini diklaim sebagai tindak lanjut dari rencana gencatan senjata 20 poin yang sempat disepakati Israel dan Hamas pada Oktober lalu.

Dalam paparannya, Kushner menggambarkan transformasi besar-besaran Jalur Gaza, khususnya kawasan pesisir. Ia memproyeksikan Gaza sebagai destinasi wisata kelas dunia di kawasan Mediterania, dengan deretan hotel mewah dan infrastruktur modern.

Rencana induk yang ditampilkan mencakup pembangunan sekitar 180 gedung bertingkat tinggi di sepanjang pantai. Selain itu, sebuah pelabuhan baru dan bandara internasional direncanakan dibangun di wilayah barat daya Gaza, dekat perbatasan Mesir.

Kushner juga memperkenalkan dua megaproyek perkotaan yang disebut sebagai tulang punggung “Gaza Baru”. Proyek pertama adalah Rafah Baru, kawasan hunian berskala besar yang dirancang menampung lebih dari 100.000 unit rumah, 200 sekolah, serta 75 fasilitas kesehatan. Proyek ini ditargetkan rampung dalam waktu dua hingga tiga tahun, dengan proses pembersihan puing yang diklaim telah dimulai.

Proyek kedua bertajuk Gaza Baru, diproyeksikan sebagai pusat industri modern. Kawasan ini ditargetkan mampu menciptakan lapangan kerja penuh bagi penduduknya. Dalam ilustrasi yang dipresentasikan, wilayah tersebut digambarkan sebagai kota pesisir futuristik yang dipenuhi gedung perkantoran dan resor.

Meski demikian, detail teknis mengenai sumber daya, pendanaan, dan metode implementasi masih minim. Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengingat kondisi infrastruktur Gaza saat ini masih mengalami kerusakan parah akibat konflik berkepanjangan.

Soal pendanaan, Kushner menyebut pemerintah akan menyediakan “modal awal”, dengan rincian yang disebut akan diumumkan di Washington dalam waktu dekat. Ia juga mendorong keterlibatan sektor swasta global untuk ikut menanamkan investasi dalam proyek rekonstruksi tersebut.

Di sisi keamanan, Kushner mengusulkan demiliterisasi total Gaza. Jika wilayah tersebut dinyatakan bersih dari senjata berat, terowongan, dan fasilitas militer, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) diklaim akan mundur sepenuhnya ke perimeter keamanan.

Pengawasan keamanan dan rekonstruksi nantinya akan dilakukan oleh sebuah komite baru yang beranggotakan perwakilan Palestina, namun beroperasi di bawah Dewan Perdamaian. Skema ini memicu kekhawatiran dari Otoritas Palestina (PA), yang menilai kehadiran badan teknokrat tersebut berpotensi menggerus peran politik mereka.

Kushner menyatakan PA tetap dapat berperan sebagai pemerintahan sipil, dengan catatan menjalani reformasi menyeluruh. Namun, rencana ini tetap menuai kritik dari berbagai kalangan yang mempertanyakan posisi kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri warga Palestina di tengah proyek-proyek bernilai miliaran dolar tersebut.

Ini bukan kali pertama Kushner menawarkan pendekatan ekonomi sebagai solusi konflik Timur Tengah. Pada 2019, ia sempat mempromosikan inisiatif serupa di Bahrain, yang hingga kini belum menunjukkan hasil konkret.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *