Navaswara.com — Di tengah denyut mobilitas Jakarta yang tak pernah berhenti, Transjakarta mengambil langkah besar menuju masa depan transportasi publik yang lebih cerdas. Melalui penguatan transformasi digital berbasis data dan kecerdasan buatan, perusahaan ini membangun sistem pengendali operasional yang bekerja layaknya “otak digital” kota yang mampu membaca pola perjalanan, memprediksi kebutuhan, dan menjaga ritme layanan tetap stabil sepanjang hari.
Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui SYNTRA, sistem operasional terintegrasi yang dikembangkan secara internal dan kini menjadi pusat kendali seluruh pergerakan armada Transjakarta. Inovasi ini dipaparkan oleh Direktur Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, Raditya Maulana Rusdi, dalam Indonesia International Transport Summit (IITS) 2025 di Jakarta pada Kamis (27/11/2025).
Raditya menggambarkan SYNTRA sebagai tulang punggung baru dalam pengelolaan layanan. Sistem ini menghubungkan penjadwalan armada, pergerakan pramudi, pemantauan operasional secara real-time, hingga analisis performa lintas rute yang semuanya dalam satu alur kerja yang saling terintegrasi. Dengan kemampuan memproses data dalam skala besar, SYNTRA membantu Transjakarta beralih dari pola kerja reaktif menjadi lebih prediktif dan adaptif.
Di sisi pelanggan, transformasi digital ini diperkuat melalui aplikasi resmi TJ: Transjakarta. Aplikasi ini menjadi jembatan utama antara masyarakat dan sistem operasional di pusat kendali. Dalam waktu singkat, TJ berkembang menjadi platform perencanaan perjalanan yang diandalkan warga, sekaligus menjadi sumber data mobilitas yang kaya bagi Transjakarta. Dari pola perjalanan harian hingga titik-titik kepadatan, seluruh informasi itu membantu perusahaan menyusun kebijakan yang lebih presisi.
“Pemanfaatan data dari aplikasi membuka pemahaman baru tentang bagaimana kota bergerak,” ujar Raditya. “Dengan itu, layanan yang kami hadirkan bisa lebih adaptif, selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat.”
Dampak transformasi ini terasa di banyak sisi. Di jalur operasional, kehadiran SYNTRA memperkuat stabilitas layanan, meningkatkan keselamatan berkendara, serta meminimalkan kendala teknis melalui pemantauan digital. Di tingkat manajerial, sistem ini menyediakan data strategis yang menjadi fondasi perencanaan jangka panjang, integrasi transportasi dengan ekosistem smart city, serta penyusunan kebijakan berbasis bukti.
Lebih jauh, pengalaman Transjakarta dalam mengembangkan “otak digital” ini membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi kota-kota lain di Indonesia yang ingin memperkuat transportasi publiknya. Transformasi digital, kata Raditya, bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang memahami karakter mobilitas sebuah kota dan membangun sistem yang bisa bergerak selaras dengannya.
“Kami siap berbagi pengalaman agar kota-kota lain tidak harus memulai dari nol. Transformasi ini adalah perjalanan bersama menuju masa depan transportasi yang lebih baik,” tutupnya.
Melalui inovasi yang terus dikembangkan dan semangat berbagi pengetahuan, Transjakarta berharap kehadiran SYNTRA dapat menjadi momentum besar menuju ekosistem mobilitas perkotaan yang lebih lancar, aman, dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.
