Navaswara.com – Tingginya angka penipuan online di Indonesia memicu lahirnya gerakan literasi digital baru yang fokus pada pengendalian diri. Data Indonesia Anti Scam Center mencatat kerugian akibat penipuan mencapai Rp9,1 triliun sepanjang November 2024 hingga Januari 2026. Kondisi ini diperparah dengan perilaku reaktif masyarakat saat berinteraksi di ruang digital.
Menanggapi fenomena tersebut, PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) melalui ekosistem omnichannel-nya menginisiasi sebuah eksperimen sosial bertajuk JEDA (Jangan Reaktif, Evaluasi, Double-check, Ambil keputusan dengan tenang). Langkah strategis ini dilakukan untuk memperkuat perlindungan konsumen melalui edukasi yang lebih manusiawi. Hasilnya, 70 persen partisipan merasa lebih jernih dalam mengambil keputusan hanya dengan menyisihkan waktu 10 detik sebelum bertransaksi atau merespons informasi.
Bahaya Perilaku Impulsif
Survei APJII 2025 menunjukkan bahwa 22,12 persen pengguna internet di Indonesia pernah menjadi korban penipuan. Banyak di antaranya terjebak karena dorongan impulsif saat melihat konten clickbait atau promo yang terlihat menggiurkan namun mencurigakan.
Psikolog Irma Gustiana menjelaskan bahwa kebiasaan memberi jeda singkat sangat krusial untuk menenangkan pikiran.
“Jeda singkat dapat membantu menurunkan respons impulsif dan memberi ruang bagi pikiran untuk lebih jernih sebelum mengambil keputusan. Dengan mengalihkan energi impulsif menjadi aktivitas yang memuaskan secara kognitif, kita sebenarnya sedang melatih kendali diri,” ujar Irma.
Menurutnya, cara sederhana seperti menarik napas dalam atau melakukan relaksasi singkat dapat menurunkan respons emosional yang biasanya menjadi pintu masuk penipuan.
Temuan Menarik dari Eksperimen JEDA
Eksperimen yang melibatkan 158.000 orang ini mengungkap beberapa fakta unik mengenai perilaku digital warga Indonesia, antara lain:
-
Lansia Paling Reaktif Kelompok usia 65 tahun ke atas (Baby Boomers) ternyata lebih cepat mengklik tautan clickbait (7,06 persen) dibandingkan Gen Z (3,43 persen).
-
Jam Sibuk Jadi Titik Lengah Lonjakan perilaku impulsif justru terjadi pada jam sibuk kerja, yakni pukul 09.00, 11.00, 13.00, dan 15.00 WIB.
-
Dominasi Kota Besar Warga Jakarta menjadi yang paling reaktif, disusul oleh penduduk di Depok dan Surakarta.
Perlindungan Konsumen dan Literasi Digital
Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital Kementkomdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menilai tantangan utama saat ini bukan lagi soal akses informasi, melainkan cara masyarakat meresponsnya.
“Kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi menjadi bagian penting dari literasi digital,” kata Bonifasius.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Grup Pelindungan Konsumen Bank Indonesia, Diana Yumanita, menekankan bahwa jeda 10 detik adalah bentuk mitigasi risiko mandiri. Banyak kerugian finansial terjadi bukan karena sistem yang lemah, melainkan keputusan transaksi yang terlalu cepat tanpa verifikasi.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat konsep BIJAK (Baca, Ingat, Jauhi, Adukan, Kritis) yang diusung Kementerian Perdagangan, guna menciptakan ekosistem belanja daring yang lebih aman dan berdaya di tahun 2026 ini.
