Setahun S61, Transjakarta Kian Agresif Bangun Konektivitas dan Percepat Bus Listrik

Navaswara.com – Momentum Hari Angkutan Umum Nasional tahun ini dimanfaatkan PT Transportasi Jakarta untuk menegaskan arah besarnya: memperluas konektivitas lintas wilayah sekaligus mempercepat transisi menuju transportasi rendah emisi. Bertempat di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jumat (24/4), peringatan ini terasa lebih dari sekadar seremoni. Ada capaian yang dirayakan, sekaligus target besar yang sedang dikejar.

Salah satu sorotan utamanya adalah genap satu tahun beroperasinya rute Transjabodetabek S61. Rute yang menghubungkan Alam Sutera dan Blok M ini dalam waktu singkat menunjukkan perannya sebagai penghubung penting antara wilayah penyangga dan pusat aktivitas di Jakarta. Bukan hanya soal jarak tempuh, tetapi juga bagaimana mobilitas masyarakat kini semakin cair, tidak lagi terikat pada batas administratif.

Direktur Bisnis dan Pemanfaatan Aset Transjakarta, Fadly Hasan, melihat keberhasilan S61 sebagai sinyal perubahan pola mobilitas warga Jabodetabek. Menurutnya, kebutuhan transportasi publik saat ini tidak lagi bisa dibatasi oleh wilayah, melainkan harus mengikuti pergerakan masyarakat yang semakin dinamis. Rute ini, kata dia, menjadi bukti bahwa integrasi lintas kawasan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.

Pertumbuhan jumlah pelanggan di rute S61 dalam setahun terakhir memperkuat gambaran itu. Kepercayaan publik terhadap layanan yang aman, nyaman, dan efisien terus meningkat. Ini sejalan dengan capaian Transjakarta secara keseluruhan yang kini melayani sekitar 1,4 juta perjalanan per hari. Sepanjang 2025, total pelanggan bahkan menembus 413 juta, meningkat secara signifikan dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

Dari sisi jangkauan, layanan Transjakarta juga semakin luas. Hingga awal 2026, cakupannya telah mencapai lebih dari 90 persen wilayah Jakarta. Angka ini menunjukkan bahwa transportasi publik perlahan menjadi pilihan yang semakin relevan bagi masyarakat urban.

Namun, arah pengembangan Transjakarta tidak berhenti pada perluasan rute. Ada agenda besar lain yang sedang dipercepat, yakni elektrifikasi armada. Pada momentum ini, Transjakarta meresmikan penambahan 30 unit bus listrik baru, yang seluruhnya merupakan hasil rakitan dalam negeri. Penambahan ini membuat total armada bus listrik yang beroperasi kini mencapai 500 unit.

Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan besar menuju transportasi ramah lingkungan. Targetnya cukup ambisius. Pada 2027, setengah armada ditargetkan sudah berbasis listrik. Sementara pada 2030, seluruh armada ditargetkan beralih sepenuhnya, sejalan dengan komitmen menuju net-zero emissions.

Di titik ini, Transjakarta tidak hanya berbicara soal layanan, tapi juga soal arah masa depan kota. Transportasi publik bukan lagi sekadar alat mobilitas, melainkan bagian dari solusi terhadap persoalan lingkungan dan kualitas hidup perkotaan.

Pesan yang ingin ditegaskan sederhana, tapi penting. Kota yang maju tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh pilihan warganya. Ketika transportasi publik menjadi pilihan utama, di situlah fondasi kota yang lebih tertib, efisien, dan berkelanjutan mulai terbentuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *