Navaswara.com — Masuknya Indonesia dalam daftar 100 Best Cuisines in the World 2025/26 versi TasteAtlas menjadi kabar yang patut diapresiasi. Berada di peringkat ke-10 dengan skor 4,48 menunjukkan bahwa kekayaan cita rasa Nusantara terus mendapat tempat di panggung kuliner dunia. Pengakuan ini sekaligus mencerminkan kekuatan tradisi kuliner Indonesia yang tetap relevan dan digemari lintas negara.
Daripada hanya melihat angka yang tertera tahun ini, mari menelaah mengapa posisi Indonesia di papan atas TasteAtlas sebenarnya adalah sebuah prestasi monumental yang sulit ditiru oleh negara lain.
Konsistensi Tiga Tahun Beruntun
Banyak negara mampu menembus daftar bergengsi berkat tren kuliner sesaat, namun mempertahankan posisi adalah cerita yang berbeda. Walaupun posisi Indonesia pada edisi 2025/26 berada di urutan ke-10, sedikit bergeser dari peringkat 7 pada edisi 2024/25 dan peringkat 6 pada 2023/24, ada satu pencapaian yang patut dirayakan. Selama tiga tahun berturut-turut, Indonesia tidak pernah terdepak dari jajaran 10 besar dunia.
Menjaga stabilitas di jajaran elite ini membutuhkan fondasi budaya kuliner yang sangat kuat. Skor yang diraih Indonesia merupakan hasil akumulasi rata-rata dari 590.228 penilaian valid terhadap belasan ribu makanan tradisional di seluruh dunia. Publik global, mulai dari wisatawan hingga pemerhati makanan, terbukti memiliki apresiasi yang menetap terhadap racikan bumbu Nusantara.
Dominasi Tunggal di Asia Tenggara
Kekuatan kuliner Nusantara makin terasa istimewa jika kita mempersempit lensa ke peta persaingan kawasan. Indonesia memantapkan diri sebagai satu-satunya perwakilan Asia Tenggara di posisi 10 besar. Negara-negara tetangga yang juga merupakan raksasa pariwisata kuliner, seperti Thailand dan Vietnam, belum mampu menyamai pencapaian ini.
Pada skala benua Asia pun, Indonesia hanya berada di bawah dua kekuatan kuliner klasik yang sudah mendunia berabad-abad lamanya, yaitu Jepang pada peringkat keenam dan China pada peringkat kedelapan.
Bawang Goreng hingga Kecap Asin Berkelas Dunia
Reputasi gemilang ini digerakkan oleh beberapa hidangan spesifik yang meraup skor nyaris sempurna dari para pencicip global. Nasi Padang tampil sebagai ujung tombak kebanggaan dengan skor 4,8. Menariknya, unsur pelengkap sederhana seperti bawang goreng justru diakui secara masif dan berhasil meraih skor 4,7, disusul oleh kekayaan rempah Soto Betawi dengan perolehan 4,6.
Pengakuan TasteAtlas juga merambah hingga ke bumbu penyedap dasar. Kecap asin buatan lokal sukses merangsek ke posisi keempat dalam daftar kecap terenak dunia yang diperbarui pada pertengahan 2026. Kehadiran produk Indonesia di tengah dominasi produk-produk Korea Selatan membuktikan bahwa kualitas bahan baku kita mampu bersaing secara spesifik dan mendetail.
Pemeringkatan TasteAtlas memang bukan vonis mutlak atas kualitas makanan suatu negara. Tujuan utamanya adalah merayakan keragaman rasa dan mendorong rasa ingin tahu. Namun bagi Indonesia, rekam jejak panjang di 10 besar dunia ini menjadi pengingat manis bahwa warisan teknik memasak dan kekayaan rempah dari generasi ke generasi telah mendapatkan tempat permanen di lidah masyarakat global.
