Navaswara.com – Dari banyaknya ragam kuliner Nusantara, tinutuan atau bubur Manado punya tempat tersendiri. Hidangan khas dari Sulawesi Utara ini bukan hanya populer sebagai menu sarapan, tetapi juga menyimpan cerita panjang tentang kreativitas masyarakat dalam menghadapi keterbatasan pangan.
Bubur pada dasarnya adalah makanan hasil perebusan bahan pangan hingga lunak dengan kandungan air cukup banyak. Secara global, makanan ini dikenal praktis, mengenyangkan, dan mudah dibuat.
Sejarah mencatat bubur sudah dikenal sejak lama di Tiongkok, bahkan dikaitkan dengan masa legenda Kaisar Xuanyuan Huangdi. Saat paceklik, memasak beras dengan lebih banyak air menjadi cara agar makanan bisa dinikmati lebih banyak orang.
Tradisi itu kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Nusantara, seiring migrasi masyarakat Tionghoa. Tak heran, hampir setiap daerah di Indonesia punya bubur khas.
Di Jakarta ada bubur ase, Cirebon terkenal dengan bubur ayam khas, sementara Aceh punya kanji rumbi. Wilayah Maluku mengenal bubur sagu ubi, sedangkan Kalimantan identik dengan bubur pedas. Dari keragaman inilah lahir tinutuan.
Awalnya, tinutuan berkembang dari kebiasaan masyarakat Minahasa yang memanfaatkan bahan pangan lokal. Beras dulu tidak selalu mudah didapat, sehingga dicampur dengan jagung, ubi, dan aneka sayur yang tersedia di sekitar rumah.
Antropolog Jerman Gabriele Weichart menyebut banyaknya sayuran dalam tinutuan mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam. Pola hidup bertani, meramu, dan memanfaatkan hasil kebun membentuk tradisi kuliner tersebut.
Tak hanya soal rasa, tinutuan akhirnya menjadi bagian identitas budaya sekaligus simbol kebersamaan.
Perkembangan kota membuat hidangan ini makin dikenal luas. Penduduk dari berbagai daerah membawa kebiasaan memasak tinutuan ke pusat kota hingga akhirnya populer sebagai bubur Manado.
Sejarawan R.Z. Leirissa pernah menyinggung peran misionaris Kristen abad ke-19 yang ikut mengenalkan variasi bubur sayur kepada masyarakat lokal. Hidangan ini mudah diterima karena sesuai selera pedas dan bahan lokal.
Kini tinutuan identik dengan campuran beras, jagung, ubi merah, kangkung, bayam, kemangi, kacang panjang, serta daun gedi. Biasanya disantap dengan ikan asin atau sambal dabu-dabu.
Selain rasanya gurih dan segar, kandungan sayur membuat tinutuan dikenal sebagai makanan bernutrisi. Tak heran jika hidangan ini tetap digemari, baik oleh warga lokal maupun wisatawan.
