Ternyata Bukan dari Indonesia, 7 Kuliner yang Selama Ini Dikira Asli Nusantara

Navaswara.com – Sambal, bakso, hingga martabak telur sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Hidangan-hidangan ini begitu akrab di meja makan maupun jajanan kaki lima sehingga banyak orang mengira semuanya lahir di Nusantara.

Faktanya, beberapa makanan dan bahan pangan populer justru berasal dari negara lain. Setelah masuk ke Indonesia lewat perdagangan, migrasi, maupun masa kolonial, resepnya berkembang mengikuti bahan, bumbu, dan selera masyarakat setempat.

1. Cabai berasal dari Amerika

Sulit membayangkan masakan Indonesia tanpa cabai. Sambal, balado, rendang, dan aneka hidangan bercita rasa pedas bergantung pada bahan ini.

Cabai berasal dari kawasan Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama Meksiko. Bangsa Portugis membawanya ke Nusantara sekitar abad ke-16. Sejak saat itu, cabai dibudidayakan di berbagai daerah dan menjadi bumbu utama dalam banyak masakan Indonesia.

2. Jagung berasal dari Meksiko

Jagung menjadi makanan pokok di sejumlah daerah, termasuk Madura dan Nusa Tenggara Timur. Bahan ini juga diolah menjadi nasi jagung, bubur jagung, maupun aneka camilan tradisional.

Tanaman jagung berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah. Jagung masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan, lalu dibudidayakan secara luas karena cocok dengan kondisi iklim tropis.

3. Bakso berasal dari Tiongkok

Bakso mudah ditemukan, mulai dari gerobak keliling hingga restoran. Hidangan ini merupakan adaptasi dari bola daging yang dikenal dalam kuliner Tiongkok.

Nama “bakso” berasal dari bahasa Hokkien, yakni bak-so yang berarti daging giling. Di Indonesia, penyajiannya berkembang dengan kuah kaldu, mi, bihun, tahu, hingga sambal sehingga berbeda dari versi asalnya.

4. Martabak telur berasal dari India

Martabak telur identik dengan jajanan malam di berbagai kota. Isian daging cincang, telur, dan daun bawang menjadi ciri khas yang akrab di lidah masyarakat Indonesia.

Hidangan ini berakar dari India dan Timur Tengah. Resepnya menyebar ke Asia Tenggara melalui para pedagang, lalu berkembang di Indonesia dengan tambahan rempah dan isian yang menyesuaikan selera lokal.

5. Perkedel terinspirasi dari frikadel Belanda

Perkedel kerap menjadi pelengkap soto, nasi padang, maupun nasi rames. Bentuknya memang berbeda dengan frikadel asal Belanda yang menggunakan daging sebagai bahan utama.

Di Indonesia, kentang menjadi bahan utama perkedel. Bawang putih, pala, dan rempah lain ditambahkan sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih akrab bagi masyarakat setempat.

6. Kecap manis berkembang dari kecap Tiongkok

Kecap manis menjadi bumbu penting dalam sate, nasi goreng, semur, hingga mi goreng. Namun, cikal bakalnya berasal dari kecap asin yang dibawa pedagang Tiongkok.

Dalam perkembangannya, gula aren ditambahkan untuk menyesuaikan selera masyarakat Jawa. Dari sinilah lahir kecap manis yang kini menjadi salah satu ciri khas kuliner Indonesia.

7. Mi ayam berkembang dari bakmi Tiongkok

Mi ayam termasuk makanan yang mudah ditemukan di hampir semua daerah di Indonesia. Banyak orang menganggap hidangan ini asli Nusantara karena sudah lama menjadi bagian dari kuliner sehari-hari.

Hidangan ini berkembang dari bakmi yang dibawa imigran Tionghoa. Di Indonesia, penggunaan daging babi diganti ayam, lalu dipadukan dengan kecap manis dan aneka bumbu sehingga menghasilkan rasa gurih manis yang berbeda dari versi awalnya.

Meski berasal dari berbagai negara, ketujuh makanan tersebut berkembang dengan karakter yang berbeda setelah masuk ke Indonesia. Penyesuaian bahan, bumbu, dan cara memasak membuat masing-masing memiliki cita rasa yang khas, bahkan sudah menjadi bagian dari identitas kuliner Indonesia.