Revitalisasi 71 Ribu Sekolah Jadi Penggerak Ekonomi Lokal dan Serap 710 Ribu Pekerja

Navaswara.com – Tawa riang anak-anak kini terdengar lebih lepas dari ruang-ruang kelas yang terang dan nyaman. Dinding yang dulu retak, atap yang bocor, serta fasilitas sekolah yang serba terbatas telah berganti menjadi bangunan yang layak dan membangkitkan semangat belajar. Namun perubahan itu tidak hanya dirasakan para murid dan guru. Di balik berdirinya gedung-gedung sekolah baru, roda ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak melalui keterlibatan tenaga kerja lokal dan pelaku usaha setempat.

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang menjadi bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto terbukti tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Hal tersebut terlihat di SD Negeri Leuwibatu 02 dan SD Negeri Leuwibatu 03, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang kini menikmati wajah baru setelah menjalani revitalisasi sejak Juli 2025.

Kepala SD Negeri Leuwibatu 02, Sudrajat, mengatakan masyarakat sekitar dilibatkan sejak awal proses pembangunan. Keterlibatan tersebut tidak hanya mempercepat pelaksanaan proyek, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah.

“Dari mulai pembangunan pun kita harus melibatkan masyarakat. Komite kita berdayakan, masyarakat kita berdayakan. Alhamdulillah masyarakat membantu kami,” ujar Sudrajat saat ditemui di SDN Leuwibatu 02, Kabupaten Bogor, Rabu (10/6/2026).

Melalui program revitalisasi tersebut, SD Negeri Leuwibatu 02 memperoleh enam ruang kelas baru, satu unit toilet, serta rehabilitasi tiga ruang kelas dengan anggaran sebesar Rp2,1 miliar. Sementara SD Negeri Leuwibatu 03 mendapatkan tiga ruang kelas baru, satu ruang administrasi, dan rehabilitasi empat ruang kelas dengan nilai anggaran Rp1,5 miliar. Kini kedua sekolah tersebut telah digabung menjadi SDN Leuwibatu 02.

Perubahan fisik sekolah menghadirkan suasana belajar yang jauh lebih baik. Para guru merasakan peningkatan semangat belajar siswa setelah menempati gedung baru yang lebih aman dan nyaman.

Guru Kelas 2 SDN Leuwibatu 02, Nurul Komariyah, mengungkapkan bahwa para siswa sudah lama menantikan kepindahan ke gedung baru tersebut.

“Anak-anak senang sekali. Jadi lebih semangat. Mengajar juga setiap pagi jadi semangat bertemu anak-anak. Dulu sebelum proyek selesai, mereka selalu bertanya kapan bisa pindah ke gedung baru. Sekarang alhamdulillah sudah bisa belajar di sini,” tuturnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa revitalisasi sekolah merupakan investasi sosial yang memberikan manfaat berlapis. Selain meningkatkan kualitas sarana pendidikan, program tersebut juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pola pembangunan swakelola.

“Revitalisasi sekolah tidak hanya membangun sarana pendidikan, tetapi juga menciptakan lapangan pekerjaan dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Sistem pelaksanaannya dilakukan secara swakelola dengan mengutamakan tenaga kerja lokal serta pembelian material dari toko-toko setempat,” kata Abdul Mu’ti.

Menurutnya, pemerintah menargetkan revitalisasi sebanyak 71.744 satuan pendidikan di seluruh Indonesia sepanjang 2026. Dengan asumsi setiap sekolah melibatkan sedikitnya 10 tenaga kerja lokal, program tersebut berpotensi menyerap sekitar 710 ribu pekerja.

“Kalau kita bisa membangun 71.744 satuan pendidikan tahun ini, insya Allah bisa terserap lapangan kerja untuk sekitar 710 ribu pekerja, bahkan bisa lebih. Karena ada sekolah-sekolah dengan paket pekerjaan yang lebih besar sehingga tenaga kerja yang dilibatkan juga lebih banyak,” jelasnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, revitalisasi sekolah juga menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan berkualitas hingga ke daerah-daerah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menilai program tersebut merupakan bukti kehadiran negara dalam menjawab kebutuhan pendidikan masyarakat secara merata.

“Ini merupakan satu bukti kepedulian dari pemerintah, dari Bapak Presiden untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita. Semua anak di seluruh pelosok, termasuk di daerah pinggiran, harus punya akses pendidikan yang baik,” tegas Pratikno.

Revitalisasi sekolah akhirnya tidak sekadar menghadirkan bangunan baru. Program ini menjadi penggerak harapan, memperkuat kualitas pendidikan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dari ruang kelas yang lebih layak, lahir semangat belajar baru. Dari proyek pembangunan sekolah, tumbuh lapangan pekerjaan dan penghidupan yang memberi manfaat bagi banyak keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *