Navaswara.com – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru, aktivitas di kantor-kantor layanan perbankan mulai dipadati masyarakat yang mencari solusi pembiayaan cepat untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga. Di tengah meningkatnya biaya pendidikan dan kebutuhan rumah tangga, emas kembali menunjukkan perannya bukan hanya sebagai instrumen investasi, tetapi juga menjadi penyangga likuiditas yang dapat dimanfaatkan tanpa harus kehilangan aset berharga.
Melihat tren tersebut, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat pertumbuhan outstanding gadai emas sebesar 100 persen dalam enam bulan terakhir menjadi Rp13 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat memanfaatkan emas sebagai solusi pembiayaan yang cepat, aman, dan sesuai prinsip syariah.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan, lonjakan transaksi menunjukkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap emas. Selain sebagai investasi dan pelindung nilai aset, emas kini semakin dimanfaatkan sebagai sumber dana tunai ketika dibutuhkan tanpa harus dijual.
“BSI membangun ekosistem emas yang lengkap mulai dari pembelian emas melalui BSI Emas, cicil emas, gadai emas hingga transfer emas. Ekosistem ini kami hadirkan agar masyarakat dapat mengoptimalkan manfaat kepemilikan emas. Mulai dari memiliki emas melalui cicilan hingga saat membutuhkan dana tunai tanpa harus menjual asetnya. Emas memiliki nilai intrinsik yang kuat dan terbukti mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang,” ujar Anton.
Mayoritas pengguna layanan gadai emas BSI merupakan ibu rumah tangga yang memanfaatkan fasilitas tersebut untuk memenuhi berbagai kebutuhan keluarga, terutama biaya pendidikan anak menjelang tahun ajaran baru.
Sepanjang semester pertama 2026, transaksi gadai emas di BSI terus menunjukkan tren positif dengan rata-rata mencapai 120 ribu transaksi setiap bulan. Produk ini menjadi pilihan karena menawarkan proses yang cepat, taksiran nilai emas yang kompetitif, biaya yang relatif terjangkau, serta kemudahan layanan digital melalui aplikasi BYOND, mulai dari reservasi, simulasi hingga perpanjangan gadai emas.
Anton menegaskan, penguatan layanan gadai emas merupakan bagian dari strategi jangka panjang BSI dalam membangun ekosistem emas nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Kami siap menjadikan ekosistem emas BSI semakin kompetitif. Karena itu, kami terus membangun rantai layanan emas dari hulu hingga hilir agar tercipta closed-loop ecosystem yang kuat,” katanya.
BSI menghadirkan berbagai layanan yang saling terhubung, mulai dari pembelian emas, cicilan emas, gadai emas, hingga transfer emas. Ekosistem tersebut dirancang agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola aset emas sesuai kebutuhan, baik untuk investasi, menjaga nilai kekayaan, maupun memperoleh pembiayaan ketika diperlukan.
Dari sisi ekonomi, meningkatnya pemanfaatan gadai emas mencerminkan tumbuhnya literasi keuangan masyarakat dalam mengoptimalkan aset produktif. Berbeda dengan menjual emas, skema gadai memungkinkan pemilik tetap mempertahankan kepemilikan aset sekaligus memperoleh likuiditas untuk memenuhi kebutuhan mendesak.
Langkah BSI memperkuat ekosistem emas juga dinilai mendukung inklusi keuangan syariah di Indonesia. Dengan layanan yang semakin lengkap dan berbasis digital, masyarakat didorong untuk mengelola keuangan secara lebih bijak, menjaga aset jangka panjang, sekaligus memperoleh akses pembiayaan yang mudah, aman, dan berkelanjutan.
Ikuti terus berita ekonomi, perbankan syariah, UMKM, dan inspirasi pembangunan Nusantara hanya di Navaswara.com.
