Navaswara.com – Indonesia sedang menghadapi fenomena jutaan anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah secara emosional maupun fisik. Di tengah kekhawatiran ini, muncul klaim peringkat ketiga dunia yang lahir dari interpretasi populer.
Belakangan ini, narasi bahwa Indonesia adalah negara fatherless ketiga di dunia di bawah Amerika Serikat dan Brasil, beredar luas di media sosial. Sejumlah media lokal pun turut mengutip angka 15,9 juta anak atau sekitar 20,1 persen dari total anak nasional.
Data tersebut merujuk pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Maret 2024. BPS membagi kategori ini menjadi dua: 4,4 juta anak kehilangan ayah secara fisik, dan 11,5 juta anak yang ayahnya bekerja lebih dari 60 jam per minggu.
Kondisi tersebut membuat ayah praktis tidak hadir dalam proses pengasuhan harian. Angka ini kemudian menyebar melalui berbagai platform berita dan konten kreator, sering kali tanpa atribusi langsung kepada narasumber otoritatif dari pihak BPS sendiri.
Persoalan muncul pada peringkat “ketiga dunia” tersebut. Hingga saat ini, tidak ada studi internasional yang membuat ranking negara fatherless dengan metodologi yang setara dengan definisi BPS. Hal ini penting untuk dicermati kembali.
Data World Population Review justru mencatat angka single parent di Indonesia hanya sekitar 3 persen. Angka ini jauh di bawah Amerika Serikat yang mencapai 9 persen. Data global lainnya juga tidak menunjukkan posisi Indonesia di peringkat tersebut.
Meskipun peringkatnya sulit dibuktikan, fakta bahwa jutaan anak tumbuh dengan minimnya peran ayah tetap menjadi masalah serius. Fenomena ini berdampak langsung pada kualitas pertumbuhan generasi mendatang yang tidak bisa kita abaikan begitu saja.
Dr. Merry Ariani, psikolog Universitas Gadjah Mada, menyebut anak tanpa pengasuhan ayah cenderung mengalami hambatan belajar. Mereka sering menghadapi masalah kepercayaan diri, kesulitan mengelola emosi, hingga penurunan capaian akademik yang signifikan di sekolah.
Pakar psikologi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menambahkan bahwa ketidakhadiran figur ini memicu risiko depresi dan gangguan psikosomatis. Anak kehilangan rujukan dalam membangun nilai moral dan identitas diri yang stabil, terutama saat memasuki masa remaja yang krusial.
Dampaknya meluas ke ranah sosial. Data Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bangka Belitung menunjukkan anak tanpa figur ayah berisiko 1,8 kali lebih tinggi terlibat perilaku berisiko. Ini mencakup keterlibatan dalam perundungan, penggunaan NAPZA, hingga seks bebas.
Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu tingginya angka perceraian saat mereka dewasa dan gangguan kesehatan mental lintas generasi. Ironisnya, budaya patriarkal sering kali memperburuk situasi ini dengan membatasi peran laki-laki hanya sebatas pencari nafkah semata.
BKKBN bahkan merilis pembaruan data pada November 2025 yang menyebut 25,8 persen anak Indonesia masuk kategori fatherless. Sebagai langkah mitigasi, lembaga ini mendorong program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (Gemar) untuk mengembalikan peran aktif ayah.
Fenomena ini nyata dan dampaknya sangat mendalam bagi ketahanan keluarga. Tanpa intervensi serius terhadap peran ayah, risiko kesehatan mental lintas generasi akan terus membayangi masa depan anak Indonesia.

