Navaswara.com – Di balik panggung kayu kecil yang tertutup kain, tokoh-tokoh mungil Wayang Potehi bergerak lincah mengikuti irama cerita. Tangannya hidup, wajahnya ekspresif, dan suaranya mengalir dari balik layar. Bagi sebagian orang, pertunjukan ini mungkin hanya hiburan tradisional. Namun bagi sejarah, Wayang Potehi adalah saksi panjang perjumpaan budaya lintas bangsa.
Wayang Potehi berasal dari Tiongkok Selatan. Namanya tersusun dari tiga kata: pou yang berarti kain, te yang berarti kantong, dan hi yang berarti wayang. Sebuah nama yang sederhana, sekaligus menggambarkan bentuknya, boneka kain yang dimainkan dengan tangan. Kesenian ini telah dikenal sejak masa kekaisaran Cina, tepatnya pada era Dinasti Jin pada abad ke-3 Masehi, dan berkembang pesat pada masa Dinasti Song, ketika seni pertunjukan rakyat tumbuh subur di berbagai wilayah pesisir.
Jejak Panjang hingga Pesisir Nusantara
Perjalanan Wayang Potehi tidak berhenti di daratan Tiongkok. Pada sekitar abad ke-16, kesenian ini ikut berlayar bersama para perantau Tionghoa yang datang ke Nusantara. Mereka membawanya sebagai hiburan, pengingat kampung halaman, sekaligus sarana interaksi sosial di negeri baru.
Akulturasi Wayang Potehi di Indonesia tercatat dalam sumber sejarah yang cukup langka. Seorang petualang dan pedagang asal Inggris, Edmund Scott, mencatat pengalamannya saat berkunjung ke Banten pada 1602 dan 1625. Dalam catatan ekspedisinya, Scott menyebut adanya pertunjukan semacam opera kecil dengan ornamen Tiongkok yang digemari masyarakat setempat. Catatan itu menjadi salah satu bukti awal bahwa Wayang Potehi telah hadir dan diterima di tengah masyarakat Nusantara sejak ratusan tahun lalu.
Sejak saat itu, Wayang Potehi tidak lagi berdiri sebagai kesenian asing. Ia berbaur, menyesuaikan diri, dan perlahan menjadi bagian dari lanskap budaya lokal.
Bentuk Wayang Potehi pun mengalami perubahan seiring waktu. Pada masa awal, kepala, tangan, dan kaki wayang dibuat dari keramik, sementara tubuhnya berupa kain atau kaus tangan. Namun di Indonesia, material itu bergeser. Kepala wayang mulai dibuat dari kayu, seperti kayu waru atau mahoni lunak, yang lebih mudah didapat dan diolah oleh perajin lokal.
Meski bentuknya berubah, identitas Wayang Potehi tetap terjaga. Kostum, warna, dan pernak-pernik khas Negeri Tirai Bambu tetap melekat kuat. Di sinilah akulturasi bekerja: bukan menghapus asal-usul, melainkan memperkaya bentuknya.
Wayang Potehi lalu tampil sebagai kesenian yang unik, menjadi simbol perjumpaan budaya Tiongkok dan Nusantara.
Warisan yang Bertahan di Tengah Zaman
Di era modernisasi dan pergeseran selera hiburan, Wayang Potehi kini tak lagi sering dijumpai. Pertunjukannya lebih banyak hadir dalam perayaan tertentu, festival budaya, atau ruang-ruang komunitas. Namun setiap kali kain panggung itu dibuka, sejarah panjang kembali bernapas.
Wayang Potehi mengajarkan bahwa kebudayaan tidak lahir dari ruang hampa, tetapi tumbuh dari perjalanan, pertemuan, dan keberanian untuk saling menerima. Di tangan para dalang dan perajin yang setia menjaganya, Wayang Potehi tak sebatas peninggalan masa lalu, melainkan pengingat bahwa identitas Indonesia dibangun dari keberagaman yang saling bersinggungan.
Foto: Indonesia Kaya
