Mengapa Sebagian Orang Tidak Tergoda Tren Media Sosial? Ini Alasannya

Navaswara.com – Setiap pekan di media sosial selalu ada hal baru yang ramai dibicarakan. Mulai dari minuman viral, gaya berpakaian yang tiba-tiba muncul di linimasa, sampai challenge singkat yang menguasai layar fyp. Banyak orang ikut mencoba, sekadar agar tidak merasa tertinggal dari obrolan. Namun di tengah arus itu, selalu ada sosok yang tetap tenang. Mereka tidak merasa perlu mencicipi semua yang sedang naik daun dan tidak terganggu meski tidak ikut tren yang sedang ramai.

Sikap ini kerap dianggap cuek, bahkan ada yang menyebutnya tidak gaul. Padahal, dari sudut pandang psikologi, pilihan untuk tidak ikut tren sering kali berkaitan dengan karakter mental yang justru cukup kuat.

Salah satu penjelasan yang sering muncul adalah internal locus of control. Konsep yang dikenalkan psikolog Julian B. Rotter ini menjelaskan keyakinan seseorang tentang siapa yang mengendalikan hidupnya. Orang dengan internal locus of control cenderung percaya bahwa keputusan dan arah hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Mereka tidak mudah goyah oleh tekanan sosial, termasuk dorongan untuk selalu mengikuti apa yang sedang populer.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kontrol internal yang kuat biasanya lebih stabil secara emosional dan lebih puas dengan hidupnya. Mereka tidak bergantung pada validasi eksternal, seperti jumlah likes atau pengakuan sosial, untuk merasa cukup. Rasa percaya diri mereka tumbuh dari kesadaran akan nilai diri, bukan dari seberapa relevan mereka dengan tren terkini.

Ketahanan ini juga berkaitan dengan rendahnya dorongan FOMO. Ketika banyak orang merasa gelisah karena takut tertinggal, kelompok ini justru bisa menikmati jarak. Mereka tidak cemas saat tidak mencoba makanan viral dan tidak merasa kalah ketika tidak memiliki barang yang sedang hits. Alih-alih terus mengejar pembaruan, mereka lebih fokus pada hal yang memang memberi makna secara pribadi.

Skala paparan yang dihadapi sehari-hari juga memperkuat sikap ini. Laporan Digital 2024 dari We Are Social dan Meltwater mencatat lebih dari 5 miliar orang di dunia kini aktif menggunakan media sosial, dengan rata-rata waktu penggunaan lebih dari dua jam per hari. Tren, rekomendasi, dan standar sosial hadir hampir tanpa jeda. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk tidak selalu bereaksi terhadap apa yang sedang ramai justru menunjukkan adanya penyaringan sadar terhadap apa yang benar-benar ingin diikuti.

Di sisi lain, ketidaktertarikan pada tren sering menandakan konsep diri yang matang. Mereka sudah cukup mengenal preferensi, batas, dan kebutuhan sendiri. Dalam psikologi perkembangan, kondisi ini berkaitan dengan proses individuasi yang sehat. Seseorang mampu berdiri sebagai pribadi utuh tanpa harus terus menyesuaikan diri dengan selera kelompok.

Meski begitu, penting untuk melihat konteks secara jujur. Tidak semua orang yang menolak tren melakukannya karena kesadaran diri. Ada yang bersikap berlawanan hanya demi terlihat berbeda. Ada pula yang terhalang faktor ekonomi, akses, atau justru merasa tidak nyaman dalam situasi sosial. Artinya, sikap tidak ikut tren tidak selalu bisa dibaca dengan satu kacamata.

Mengikuti atau tidak mengikuti tren bukan ukuran nilai seseorang. Alasan di balik pilihan itu yang menentukan bagaimana seseorang mengelola diri. Ketika keputusan diambil dengan sadar dan selaras dengan kebutuhan pribadi, sikap tersebut menjadi sumber ketenangan. Pilihan yang konsisten dengan diri sendiri menjadi kekuatan nyata dalam menghadapi tekanan sosial dan arus informasi yang terus datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *