Navaswara.com — Dunia mode kini tidak lagi hanya berbicara tentang siluet menawan atau gaun-gaun cantik yang membuai mata. Para pencinta gaya hidup dan masyarakat modern pun kini semakin sadar akan pentingnya kisah di balik sebuah karya.
Industri fashion dituntut untuk melangkah lebih jauh dari batasan visual, sekaligus juga harus memiliki kepekaan terhadap bumi melalui praktik bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Para desainer serta jenama lokal kini dihadapkan pada tantangan besar, yaitu meramu identitas yang kuat, menjaga kualitas eksekusi, merangkul selera pasar, sekaligus membangun ekosistem yang selaras dengan alam.
Dalam napas kesadaran inilah, Jakarta Fashion Food Festival (JF3) terus mengukuhkan perannya sebagai salah satu platform mode paling konsisten di Tanah Air. JF3 hadir menawarkan ruang inklusif yang mempertemukan daya cipta, kolaborasi, dan akses bagi desainer lokal maupun internasional, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan.
Puncak perhelatan akbar ini siap digelar pada 23–29 Juli 2026 di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, dengan mengusung tema agung “Recrafted: Shaping the Future.”
Tema tersebut bukan sebatas jargon pemanis acara, melainkan wujud komitmen nyata untuk melihat fashion sebagai ekosistem hidup yang perlu dibentuk, dijaga, dan diarahkan demi menjawab tantangan masa depan bumi serta industri yang lebih baik.
“Indonesia memiliki kekayaan craftsmanship, material, pengetahuan, dan identitas budaya yang sangat besar. Namun semua itu tidak cukup jika hanya berhenti sebagai potensi. Yang perlu diolah, diarahkan, dan dihubungkan dengan sistem yang tepat. Kami ingin membuka ruang agar desainer tidak hanya tampil, tetapi juga berkembang, bertukar, dan menemukan peluang untuk melangkah lebih jauh,” ungkap Thresia Mareta, Advisor JF3.
Ekosistem Mode yang Tangguh dan Berkelanjutan
Sejak mengawali langkahnya pada tahun 2004, ajang ini terus bertumbuh menjadi wadah peleburan bagi para desainer, jenama, pelaku UMKM, pengrajin lokal, institusi pendidikan, hingga pembeli dari berbagai belahan dunia. Pendekatan kolaboratif ini menjadi bukti kuat bahwa masa depan mode yang ramah lingkungan serta tangguh tidak bisa dibangun dalam semalam oleh satu tangan saja, melainkan butuh ekosistem yang bergerak seirama.
Soegianto Nagaria, Chairman JF3 Fashion Festival, menambahkan bahwa proses kreatif harus memiliki pijakan yang kuat dengan realitas pasar. “Kami menghubungkan proses kreatif dengan akses pasar yang nyata, dari runway langsung ke konsumen. Industri fashion yang kuat tidak tumbuh dari satu event, tetapi dari ekosistem yang dibangun secara konsisten. Kami percaya bahwa kreativitas yang didukung oleh infrastruktur yang tepat akan menghasilkan dampak ekonomi yang jauh lebih besar,” jelasnya.
Panggung Peleburan Mahakarya Lintas Negara
Sebagai representasi denyut nadi industri mode Tanah Air di kancah regional dan global, panggung tahun ini menghadirkan lebih dari 50 desainer dan jenama dari Indonesia, Asia Tenggara, Asia Timur, hingga Eropa.
Dari dalam negeri, deretan nama besar yang konsisten mengawal perjalanan mode akan memamerkan karyanya. Sebut saja Tities Sapoetra, Hartono Gan, AMOTSYAMSURIMUDA, Adrie Basuki, Sofie, HOWARD LAURENT, RAEGITAZORO, hingga LAKON Indonesia yang siap memukau penonton. Tak ketinggalan, talenta-talenta baru yang membawa angin segar dan inovasi desain berwawasan alam turut diberi panggung bergengsi, di antaranya Billy Tjong, YASA, The Theme, dan Super Sentimental Secret Theory.
Semangat gotong royong ini kian terasa lewat kolaborasi bersama Indonesian Fashion Chamber (IFC) yang menyuguhkan parade busana menawan dari Rengganis, OPIE OVIE, dan XANDER.G. Di sisi lain, jalinan kerja sama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) turut memeriahkan suasana dengan kehadiran ZAHIRA by Koyko, AGATHANDY, serta Haze Be Wear by Harry Hasibuan.
Percakapan tentang masa depan fashion yang berkelanjutan turut diperkaya oleh kehadiran desainer internasional. Dari Prancis, jenama 30%70 besutan Fengyuan DAI, finalis festival mode bergengsi Hyères yang pernah berkolaborasi dengan maestro dunia Jean-Paul Gaultier, turut unjuk gigi. Hadir pula ROHAN MIRZA STUDIO yang mendobrak batas lewat eksperimen teknologi cetak 3D dan silikon. Pendekatan inovatif ini memantik diskusi menarik tentang bagaimana teknologi masa depan dapat melebur dengan kerajinan tangan demi menciptakan karya mode yang kontemporer sekaligus presisi dalam menekan limbah produksi.
Daya tarik internasional tidak berhenti di situ. Label asal Prancis, TAREET, yang busananya kerap membalut bintang dunia sekelas Playboi Carti dan ENHYPEN, menjalin kolaborasi nyata dengan jenama lokal DENIMITUP, peserta program akselerator PINTU.
Pertukaran budaya yang sarat makna juga terlihat indah dari koleksi LOUISE MARCAUD. Setelah mengikuti program PINTU Cultural Visit tahun lalu, desainer asal Prancis ini terinspirasi untuk mengolah tenun lurik Nusantara menjadi deretan koleksi terbaru yang memesona, membuktikan bahwa warisan budaya lokal bisa bersinar di panggung modern. Kolaborasi internasional ini semakin lengkap dengan keterlibatan institusi terkemuka École Duperré Paris, yang melakukan presentasi kolaboratif bersama para desainer binaan PINTU dan finalis Future Fashion Designer 2026.
Gaung kebersamaan ini meluas hingga ke penjuru benua Asia. Lewat payung AFDS (ASEAN Fashion Designers Showcase), jenama dari negara tetangga seperti Erjohn dela Serna House of Designs asal Filipina, KINNALY dari Laos, serta Indra Murak dari Singapura turut meramaikan landas peraga. Kemitraan strategis dengan Busan Fashion Week juga berhasil memboyong talenta Korea Selatan, yaitu Studio di Perla, OHGYO, dan CONSTELLER D.L.
Kehadiran delegasi internasional di panggung JF3 tentu memberi makna lebih dari keriuhan lampu sorot sesaat. Langkah ini menjadi wujud nyata dalam merajut pertukaran ide, memperkuat jejaring profesional, serta membuka pintu kolaborasi tanpa batas bagi kemajuan industri mode Indonesia yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan masa depan.
