Navaswara.com — Usia 20-an sering disebut sebagai masa penuh kemungkinan. Namun di saat yang sama, fase ini juga kerap diwarnai kebingungan tentang karier, hubungan, kondisi finansial, hingga arah hidup yang ingin dituju. Tak sedikit anak muda yang merasa tertinggal, kehilangan pegangan, atau mempertanyakan keputusan yang sudah mereka ambil.
Kondisi tersebut dikenal sebagai quarter-life crisis, sebuah fase yang umum dialami saat memasuki masa dewasa. Menanggapi hal ini, Tirta Mandira Hudhi membagikan sejumlah pandangan yang realistis tentang cara menghadapi kehidupan di usia 20 hingga 25 tahun. Mulai dari keberanian mengambil risiko hingga pentingnya terus belajar, berikut tujuh nasihat dari dr. Tirta yang bisa menjadi bahan refleksi bagi anak muda.
Yuk, simak rangkuman lengkapnya di bawah ini!
1. Masa muda adalah waktu terbaik untuk eksplorasi dan berani ambil risiko
Di rentang usia 20 hingga 25 tahun, seseorang memiliki energi yang sangat besar. Manfaatkan waktu ini untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, mulai dari mentor, teman, buku, hingga video edukasi. dr. Tirta juga menyarankan agar tidak ragu untuk melakukan pivot atau banting setir dalam karier maupun prinsip hidup. Risiko kegagalan di usia ini masih bisa ditoleransi dibandingkan jika baru berani mencoba hal baru di usia 30-an nanti.
2. Rutin olahraga sebagai investasi masa depan
Jangan mentang-mentang masih muda lalu terus merasa kebal penyakit. Menjaga kesehatan fisik sejak dini adalah langkah yang krusial. Membangun kebiasaan berolahraga sekarang akan sangat berguna untuk mencegah datangnya penyakit gaya hidup saat memasuki usia kepala tiga. Fisik yang bugar juga akan memastikan produktivitas kerja tetap maksimal di masa depan.
3. Pernikahan butuh kesiapan finansial dan rencana yang matang
dr. Tirta menyoroti istilah menemani pria dari nol. Menurutnya, pemikiran ini harus diluruskan. Jika nol yang dimaksud adalah tanpa persiapan dan tanpa sumber daya sama sekali, lebih baik pikirkan ulang. Pernikahan membutuhkan stabilitas finansial dan perencanaan hidup yang jelas.
“Jangan mau diajak berjuang dari nol kalau nolnya itu berarti nggak punya persiapan dan rencana sama sekali. Menikah itu butuh stabilitas finansial, bukan cuma modal emosi sesaat,” tegasnya.
4. Pahami bahwa hubungan di lingkungan kerja itu transaksional
Hubungan di tempat kerja perlu dijaga secara profesional. Menurut dr. Tirta, tidak semua rekan kerja perlu mengetahui persoalan pribadi yang kita hadapi. Ia mengingatkan pentingnya menjaga batasan, bersikap rasional, dan memahami bahwa lingkungan kerja memiliki dinamika serta persaingan yang wajar terjadi. Karena itu, menjaga profesionalisme dan tidak mudah terbawa emosi menjadi bekal penting dalam perjalanan karier.
5. Jangan pernah membuat keputusan saat emosi sedang tidak stabil
Entah itu sedang sangat sedih, marah besar, atau kelewat bahagia, jangan pernah membuat keputusan krusial di momen tersebut. Tenangkan diri terlebih dahulu. Kamu bisa cuci muka, berwudu, berolahraga, atau tidur sejenak untuk menjernihkan pikiran. dr. Tirta juga sangat mewanti-wanti agar anak muda tidak resign kerja secara impulsif.
“Keputusan yang diambil saat pikiran lagi dikuasai emosi tinggi, entah itu marah atau terlalu senang, biasanya bakal berujung penyesalan. Tenangin diri dulu, baru ambil tindakan,” pesan dr. Tirta.
6. Jaga kesopanan dan jangan pernah merendahkan orang lain
Roda kehidupan selalu berputar. Jangan pernah melakukan perundungan atau meremehkan orang lain di masa muda. Selalu pertahankan kerendahan hati, sapa orang-orang di sekitar, dan murah senyum. Bisa jadi, orang yang diremehkan hari ini akan menjadi atasan atau sosok yang membantu di masa depan.
7. Realita hidup di usia 30-an ke atas itu cenderung stabil namun membosankan
Jika kerap merasa insecure melihat pencapaian orang lain di media sosial, ingatlah bahwa hal itu sering kali hanya positioning atau topeng semata. Kehidupan asli seseorang hanya diketahui oleh inner circle mereka seperti keluarga dan sahabat terdekat. Realitas di usia 35 tahun ke atas biasanya berkutat pada rutinitas yang berulang dengan pemasukan dan pengeluaran yang sudah pasti. Fokuslah pada kehidupan asli sendiri daripada terjebak dalam ilusi media sosial.
Namun, melalui berbagai nasihatnya, dr. Tirta mengingatkan bahwa fase tersebut merupakan bagian dari proses bertumbuh. Terus belajar, berani mencoba hal baru, dan menjaga keseimbangan antara ambisi serta kesehatan diri menjadi bekal penting untuk menjalani masa dewasa dengan lebih percaya diri.
