Navaswara.com – Tumpukan sampah di Indonesia mencapai 31,9 juta ton pada 2024. Di tengah angka yang mengkhawatirkan itu, generasi muda justru menunjukkan arah perubahan. Survei Jakpat mencatat 78% Gen Z dan milenial tertarik menerapkan gaya hidup zero waste, dengan 16% di antaranya sudah melakukannya.
“Sebanyak 70,72% penduduk Indonesia kini berada dalam usia produktif. Generasi muda memiliki peran strategis untuk mewujudkan target zero waste menuju Indonesia Emas 2045,” jelas Rosa Vivien Ratnawati, Sekretaris Utama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Berikut tujuh langkah praktis dan inspiratif untuk mulai berkontribusi pada gerakan ini.
1. Gunakan Kantong Belanja dan Tumbler Pribadi
Kebiasaan sederhana sering kali berdampak besar. Data menunjukkan 55% anak muda Indonesia telah membawa tas belanja sendiri dan menggunakan tumbler. Tindakan ini dapat mengurangi sampah plastik sekali pakai yang mencapai 18,71% dari total sampah nasional.
Kebiasaan ini juga menghemat pengeluaran, karena pembelian minuman kemasan dapat ditekan hingga ratusan ribu rupiah per tahun.
2. Bawa Wadah Makan Sendiri
Banyak generasi muda kini membawa wadah makan pribadi. Langkah kecil ini membantu memangkas sampah plastik dan styrofoam yang sulit terurai. Di Jakarta, sejumlah restoran bahkan memberikan potongan harga bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri.
Nadya (22), mahasiswa Universitas Indonesia, berhasil menekan 80% sampah pribadinya dengan kebiasaan ini. “Makanan tetap hangat, kantong aman, bumi senang,” ujarnya.
3. Kurangi Sampah Makanan
Sampah makanan menjadi penyumbang terbesar di Indonesia, mencapai 39,67% dari total timbulan. Menguranginya bukan sekadar tindakan lingkungan, tetapi juga kemanusiaan di tengah angka kelaparan yang masih tinggi.
Langkah sederhana bisa dimulai dengan merencanakan menu mingguan, menyimpan makanan dengan benar, mengolah sisa menjadi kompos, atau ikut kampanye #BerkahPiringKosong.
4. Dukung Produk Ramah Lingkungan dan UMKM Lokal
Meski baru sekitar 15% masyarakat yang menerapkannya, memilih produk ramah lingkungan adalah bentuk investasi jangka panjang. Produk dengan sistem isi ulang, kemasan minimal, dan bahan biodegradable kini semakin banyak tersedia dari pelaku UMKM.
Produk isi ulang sabun, sampo, hingga deterjen umumnya lebih murah hingga 50% per liter dibanding produk konvensional, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

5. Gunakan Bank Sampah
Keterbatasan fasilitas daur ulang masih menjadi tantangan. Namun, jaringan bank sampah kini terus berkembang dan memberi nilai ekonomi bagi sampah anorganik. Sampah seperti botol plastik, kertas, dan kaca dapat ditukar menjadi uang atau poin.
Informasi lokasi bank sampah dapat diakses melalui komunitas daring seperti Zero Waste Indonesia atau melalui inisiatif warga di lingkungan tempat tinggal.
6. Bergabung dengan Komunitas dan Manfaatkan Media Sosial
Media sosial terbukti efektif membangun kesadaran lingkungan. WWF-Indonesia mencatat 97% anak muda peduli isu lingkungan, dan sebagian besar mendapat informasi dari platform digital.
Bergabung dengan komunitas seperti @zerowaste.id_official, EcoBali, atau Indonesian Waste Platform dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan kolektif yang konsisten.
7. Terapkan Prinsip 5R: Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot
Inilah inti dari zero waste: menolak barang tidak perlu, mengurangi konsumsi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan mengompos sampah organik. Indonesia baru mendaur ulang sekitar 15% sampahnya, jauh dari target 70% pada 2029.
Namun, dengan 75,49 juta Gen Z yang sadar lingkungan, peluang perubahan sangat terbuka.
Dampak Nyata dari Gerakan Zero Waste
Gaya hidup zero waste berpotensi menciptakan lapangan kerja sepuluh kali lebih banyak dibanding sistem pengelolaan sampah konvensional. Gerakan ini juga dapat menekan 5% emisi gas rumah kaca dari sektor sampah dan menghemat miliaran rupiah biaya pengelolaan perkotaan.
Potato Head Bali menjadi contoh sukses: sejak menerapkan konsep zero waste, mereka berhasil mengelola 97,5% sampah dan hanya mengirim 2,5% ke TPA—penurunan drastis dari 50% sebelumnya.
Masih ada 40,16% dari 33,7 juta ton sampah nasional yang belum terkelola pada 2024. Setiap tindakan kecil berarti. Seperti disampaikan Rosa Vivien, “Generasi muda adalah pilar Indonesia menuju masa keemasan 2045.”
Sumber: Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, Survei Jakpat 2024, WWF-Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

