Navaswara.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah akan terus mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Ia bahkan meyakini kondisi masyarakat akan membaik dalam enam bulan ke depan.
“Saya pikir 6 bulan dari sekarang akan semakin kelihatan bahwa orang-orang yang tadinya susah tuh akan semakin berkurang dan semakin berkurang lagi,” kata Purbaya dalam talkshow Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, belum lama ini.
Purbaya memaparkan, pergerakan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak bisa sepenuhnya dijadikan cerminan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, pergerakan pasar lebih banyak dipengaruhi ekspektasi dan sentimen investor.
“Jadi rupiah dan IHSG beda dengan fondasi ekonomi. Kadang-kadang ya, karena di situ ada ekspektasi juga ke depan seperti apa,” ujarnya.
Lebih lanjut Purbaya mengatakan, sejak akhir tahun lalu pasar keuangan domestik dipenuhi berbagai sentimen negatif, mulai dari evaluasi MSCI, pemangkasan outlook kredit oleh lembaga pemeringkat global, hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
Kondisi tersebut, kata Purbaya, membuat situasi ekonomi Indonesia terlihat seolah-olah mengalami krisis seperti tahun 1998. Padahal, pemerintah disebut terus memperbaiki fondasi ekonomi nasional.
“Dan sekarang boleh dibilang, walaupun tidak sempurna, kebijakan yang besarnya tidak ada yang salah. Kita tak akan mengulangi 1998 lagi,” kata Purbaya.
Ia juga sempat berkelakar dengan menyebut dirinya “lebih pintar sedikit” dibanding Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).
“Jadi tidak usah takut,” ujarnya.
Purbaya menuturkan, pemerintah saat ini terus berupaya mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui penguatan sektor swasta dan permintaan domestik. Strategi tersebut diharapkan bisa memperbaiki kondisi ekonomi masyarakat secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
“Sehingga pertumbuhannya didorong oleh swasta dan domestik,” tutupnya.
