Navaswara.com – Untuk pertama kalinya, seekor bayi dugong (Dugong dugon) terekam kamera di perairan Pantai Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Momen langka ini memperlihatkan dugong jantan bernama Mawar, yang dikenal sebagai penghuni tetap kawasan tersebut, tengah berenang dan bermain bersama bayi dugong dan seekor dugong betina bernama Melati.
Penampakan ini berhasil didokumentasikan oleh Forum Komunikasi Nelayan Kabola, kelompok masyarakat yang selama ini aktif memantau habitat dugong di Alor. Ketua forum, Onesimus La’a, menyebut kemunculan tiga ekor dugong ini menjadi bukti kuat bahwa habitat lamun di Pantai Mali masih produktif dan mampu mendukung kehidupan satwa laut dilindungi tersebut.
“Kami memastikan padang lamun di sini tetap terjaga agar cukup pakan untuk Mawar dan dua dugong lainnya. Kalau perlu rehabilitasi, kami siap membantu,” ujar Onesimus.
Dugong, dikenal juga sebagai “sapi laut”, merupakan mamalia laut herbivora yang hanya memakan lamun (seagrass). Satwa ini dapat tumbuh hingga 3 meter dan berat 400 kilogram, hidup di perairan dangkal tropis, serta menjadi indikator penting kesehatan ekosistem laut. Sayangnya, populasi dugong terus menurun akibat kerusakan habitat, aktivitas wisata tidak terkendali, dan perburuan. IUCN menetapkannya sebagai spesies rentan punah (Vulnerable), dan Pemerintah Indonesia melindunginya melalui Permen KP No. 79 Tahun 2018.
Menurut Ranny R. Yuneni, Koordinator Nasional Program Spesies Laut Dilindungi dan Terancam Punah WWF-Indonesia, penemuan bayi dugong ini merupakan indikasi positif keberlanjutan ekosistem lamun di Alor.
“Kehadiran individu baru membuktikan padang lamun di Pantai Mali memiliki kualitas ekologis tinggi. Tahun ini kami bersama pemerintah dan masyarakat akan melakukan survei populasi dugong, lumba-lumba, dan paus di Alor untuk memperkuat dasar ilmiah pengelolaan habitat mamalia laut,” jelas Ranny.
Survei tahun 2024 menunjukkan padang lamun di Pantai Mali termasuk kategori sehat dan padat, dengan tutupan mencapai 73–76% dan ditemukan delapan jenis lamun, termasuk Halophila ovalis — makanan favorit dugong.
Sementara itu, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik KKP, Sarmintohadi, S.Pi., M.Si., menyambut baik kabar ini. “Kemunculan bayi dugong merupakan bukti nyata keberhasilan konservasi berbasis masyarakat di Alor. KKP akan terus memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan, pemantauan populasi, serta meningkatkan kesadaran publik agar manusia dan satwa laut dapat hidup berdampingan secara harmonis,” ujarnya.
WWF-Indonesia bersama UPTD Pengelola Taman Perairan Kepulauan Alor dan DKP NTT juga terus mengimbau agar aktivitas wisata di sekitar habitat dugong dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Interaksi dengan dugong harus tetap berjarak, tidak mengganggu perilaku alami, serta mematuhi kode etik wisata dugong untuk memastikan keberlanjutan ekosistem laut Alor.
Kemunculan bayi dugong ini menjadi simbol harapan bagi konservasi laut Indonesia — bahwa ketika alam dijaga bersama, kehidupan akan selalu menemukan cara untuk tumbuh dan berlanjut.

