Ketika Sampah Plastik Derawan Diubah Jadi Nilai Ekonomi dan Harapan Baru Laut

Navaswara.com — Di balik keindahan pasir putih dan air laut yang jernih, Pulau Derawan menghadapi persoalan serius: lonjakan sampah seiring meningkatnya kunjungan wisata. Pada musim liburan, aktivitas hotel dan penginapan saja mampu menghasilkan lebih dari 46 ton sampah non-rumah tangga per hari. Jika tak dikelola, sebagian berakhir di laut yang mengancam terumbu karang dan satwa yang kerap salah mengira plastik sebagai makanan.

Menjawab tantangan tersebut, WWF-Indonesia bersama Pemerintah Kabupaten Berau menghadirkan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang diberi nama “RUPIAH” atau Rumah Pilah Sampah. Fasilitas yang dibangun sejak September 2025 ini bukan sekadar tempat menampung limbah, melainkan pusat pengelolaan terpadu yang mendorong perubahan perilaku masyarakat.

Di dalamnya tersedia ruang operasional, gudang peralatan, serta area pemilahan dan pengepakan. Sepuluh anggota tim pengelola telah dilatih memahami jenis sampah, teknik pemilahan, keselamatan kerja, hingga alur distribusi. Sampah anorganik dari rumah tangga dan pelaku usaha dipilah lebih detail mulai dari botol plastik berbagai jenis, kaleng, hingga kemasan makanan untuk kemudian dikirim dan dijual ke luar pulau. Dari sinilah sampah memiliki nilai ekonomi; ada “rupiah” yang kembali ke masyarakat.

Ketua Tim Pengelola TPS3R, Heryuni, menyebut kehadiran fasilitas ini sebagai solusi konkret atas persoalan tahunan saat musim wisata. Dukungan juga diperkuat oleh 10 local champion di tiap RT yang mengedukasi warga agar memilah sampah sejak dari sumbernya.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas berharap RUPIAH menjadi model pengelolaan sampah pulau kecil yang tak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi. Pemerintah Kampung Pulau Derawan pun menyatakan kesiapan mengoperasikan fasilitas ini secara berkelanjutan.

Kolaborasi WWF-Indonesia bersama WWF Networks serta mitra korporasi memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan gotong royong lintas sektor. Tantangan seperti keterbatasan listrik dan biaya distribusi antarpulau memang ada, namun Derawan memilih bergerak maju.

Kini, RUPIAH menjadi simbol bahwa menjaga laut tidak selalu dimulai dari kebijakan besar. Ia berawal dari kebiasaan sederhana: memilah sampah. Dari langkah kecil itu, masa depan Derawan yang bersih, indah, dan lestari sedang dibangun bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *