Navaswara.com – Pengelolaan sumber daya alam berbasis adat masih dijalankan oleh Suku Moi di Papua Barat melalui sistem egek. Tradisi ini mengatur waktu dan wilayah pemanfaatan hutan serta laut agar tetap terjaga sekaligus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Tradisi pemanfaatan alam secara kolektif dan terukurini telah diterapkan lintas generasi dan berfungsi sebagai mekanisme pengendalian agar hutan serta laut tetap produktif.
Egek bekerja sebagai larangan sementara dalam mengambil hasil alam di wilayah tertentu. Pola ini sejalan dengan praktik konservasi adat di wilayah timur Indonesia, di mana masyarakat menentukan waktu panen berdasarkan kondisi alam, bukan tekanan pasar atau kebutuhan sesaat.
Wilayah Diatur Berdasarkan Fungsi
Dalam praktiknya, egek membagi wilayah hutan dan laut ke dalam dua zona. Satu zona dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan harian warga, sementara zona lainnya ditutup sementara agar sumber daya seperti sagu, ikan, udang, lobster, dan teripang memiliki waktu pulih secara alami.
Masa penutupan biasanya berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan, bergantung pada kondisi stok alam. Sistem ini dijalankan secara konsisten oleh masyarakat Kampung Malaumkarta, Distrik Makbon, Sorong, sebagai bagian dari tata kelola adat yang masih aktif hingga kini.
Keputusan Ditentukan Lewat Musyawarah Adat
Penetapan waktu buka dan tutup egek dilakukan melalui musyawarah Dewan Adat Malaumkarta Raya. Para tokoh adat, termasuk Spenger Malasamuk, berperan dalam memimpin diskusi dan memastikan keputusan diambil atas kesepakatan bersama.
Model ini membatasi ruang bagi eksploitasi sepihak. Saat egek dibuka, hasil panen dibagi merata kepada keluarga-keluarga yang terlibat, sehingga manfaat ekonomi dan sosial dirasakan secara kolektif.

Dampak bagi Ekosistem
Dari sisi lingkungan, egek membantu menjaga ketersediaan ikan serta keberlanjutan ekosistem laut. Hutan pun tetap terjaga karena pemanfaatannya dikendalikan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat, bukan eksploitasi berlebihan.
Pengalaman Suku Moi menunjukkan bahwa pengelolaan berbasis adat mampu berjalan efektif tanpa ketergantungan pada intervensi eksternal. Sistem ini lahir dari pemahaman lokal terhadap siklus alam dan dijalankan dengan disiplin sosial yang kuat.
Peran Ekonomi bagi Komunitas
Selain menjaga alam, egek turut memberi dampak ekonomi. Hasil panen dari pembukaan egek pernah digunakan untuk mendukung pembangunan Gereja Silo Malaumkarta, menunjukkan peran langsung tradisi ini dalam kehidupan sosial masyarakat.
Skema berbagi hasil memperkuat ketahanan ekonomi komunitas tanpa mengorbankan keberlanjutan alam. Pola ini menempatkan kepentingan bersama sebagai dasar pengelolaan sumber daya.
Bagian dari Sistem Hidup Masyarakat
Bagi Suku Moi, egek merupakan bagian dari sistem hidup yang mengatur relasi manusia dengan alam. Tradisi ini membentuk cara pandang kolektif dalam melihat hutan dan laut sebagai ruang hidup yang perlu dijaga bersama.
Di tengah arus pembangunan dan perubahan pola ekonomi, egek tetap dijalankan sebagai sistem yang relevan. Praktik ini menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki pengetahuan dan mekanisme sendiri dalam menjaga keberlanjutan alam Papua Barat.
