Navaswara.com — Suasana duka menyelimuti Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan santri yang tengah beribadah di musholla pada Senin (29/9) lalu tertimpa reruntuhan atap yang ambruk saat proses pengecoran. Hingga kini, proses evakuasi terus berlangsung dengan penuh kehati-hatian.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno datang langsung ke lokasi pada Kamis (2/10) untuk memastikan setiap langkah pencarian berjalan baik. Ia menegaskan, perintah Presiden jelas: keselamatan korban adalah prioritas utama.

“Pemerintah mengerahkan Basarnas, BNPB, TNI-Polri, serta pemerintah daerah. Semua dilakukan ekstra hati-hati agar korban bisa ditemukan selamat,” ujar Pratikno usai meninjau lokasi.
Didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, dan Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, Menko PMK juga berdialog dengan keluarga korban yang menunggu kabar penuh harap. Air mata dan doa mengiringi setiap proses evakuasi.
Data hingga Rabu (1/10) mencatat, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 108 santri—103 selamat dan 5 meninggal dunia. Namun, masih ada 59 santri yang belum ditemukan. Hasil pemantauan drone thermal sempat mendeteksi tanda-tanda kehidupan, namun hanya 5 santri yang berhasil diselamatkan. Kini, penggunaan alat berat menjadi pilihan untuk mempercepat pencarian, dengan persetujuan penuh keluarga korban.

“Kami sudah berbicara dengan keluarga. Karena tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan, mereka mengikhlaskan. Tapi tentu penggunaan alat berat akan sangat hati-hati,” jelas Pratikno.
Usai menemui keluarga, Menko PMK meninjau langsung reruntuhan. Ia menyaksikan kerja keras tim SAR menggali sisa bangunan, berpacu dengan waktu, namun tetap menjunjung keselamatan dan penghormatan bagi para korban.
“Mari kita terus berdoa, semoga korban yang belum ditemukan segera dievakuasi, dan keluarga diberi kekuatan menghadapi musibah ini,” tutupnya dengan penuh haru.

