Navaswara.com – Indonesia mencatat capaian penting dalam diplomasi dagang internasional dengan penandatanganan Indonesia-Canada CEPA dan penyelesaian substantif Indonesia-European Union CEPA. Menteri Perdagangan Budi Santoso (Mendag Busan) menegaskan kedua perjanjian ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Dengan implementasi CEPA, kami menargetkan peningkatan signifikan ekspor, baik ke Kanada maupun Uni Eropa. Perjanjian ini adalah titik tolak memperkuat perdagangan Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia,” ujar Mendag Busan saat membuka forum strategis di Jakarta, Senin (29/9/2025).
Untuk memudahkan eksportir, Kemendag tengah menyiapkan kebijakan otomatisasi Surat Keterangan Asal (SKA) agar pelaku usaha langsung memperoleh tarif preferensial terendah secara sistematis. “Pelaku usaha cukup fokus meningkatkan ekspor, sementara sistem akan menjamin tarif terbaik,” jelas Mendag.
Setelah Kanada dan Uni Eropa, pemerintah juga membidik pasar baru seperti blok Mercosur di Amerika Latin dan kawasan Afrika pada 2026. Ekspansi pasar ini diharapkan mendukung target pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono, menyebut kedua CEPA menempatkan Indonesia di jalur perdagangan dunia dari Indo-Pasifik hingga Atlantik. “Momentum ini penting untuk memperluas pasar sekaligus memperkuat posisi geopolitik Indonesia,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari dunia usaha. PT Kapal Api Global melihat peluang besar bagi kopi Indonesia di Kanada, sementara PT Tatalogam Lestari menilai CEPA dengan Uni Eropa akan menguntungkan industri besi dan baja dengan tarif masuk 0 persen.
Dari sisi diplomasi, Dubes RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, menegaskan CEPA bukan hanya soal penghapusan tarif, melainkan kemitraan menyeluruh yang mencakup investasi, jasa, dan pergerakan tenaga profesional. Sementara itu, akademisi Widyastutik dari IPB menyoroti peluang besar bagi wirausaha perempuan Indonesia, sejalan dengan komitmen Kanada pada energi terbarukan dan kesetaraan gender.
Dalam sesi diskusi soal Uni Eropa, Carsten Sorensen dari EU Delegation menyebut perjanjian ini membuka peluang integrasi rantai pasok global. Djisman Simandjuntak menekankan pentingnya memanfaatkan CEPA sebagai dasar memperkuat kolaborasi teknologi dan inovasi.
Dari sisi industri, APRISINDO menyebut sektor alas kaki akan menjadi salah satu yang paling cepat merasakan manfaat, sementara Eurocham Indonesia menegaskan perlunya penyederhanaan regulasi agar perjanjian berjalan efektif.
Dengan capaian diplomasi dagang ini, Indonesia tak hanya memperluas akses ekspor, tetapi juga mempertegas posisi sebagai pemain penting dalam arsitektur perdagangan global.
