Navaswara.com – Wajah kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM) kini kembali lengkap. Setelah sempat “mati suri” dan berhenti beroperasi sejak tahun 2012 silam, Planetarium Jakarta akhirnya resmi berdenyut kembali. Peresmian aktivasi ruang simulasi langit ini dilakukan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, belum lama ini.
Dalam suasana penuh syukur, Pramono tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat salah satu ikon edukasi sejarah di Jakarta ini kembali dibuka untuk umum. Ia menyebut momen ini sebagai langkah besar untuk menghidupkan kembali roh pengetahuan di jantung kota.
Demi memacu minat generasi muda terhadap ilmu astronomi, Pramono pun membawa “kado” spesial. Ia memutuskan untuk menggratiskan tiket masuk selama tiga bulan bagi seluruh pelajar di Jakarta. Menariknya, kebijakan ini juga diperluas bagi pelajar dari luar daerah selama masa libur Natal dan Tahun Baru 2026, sehingga mereka bisa menikmati keajaiban bintang-bintang tanpa harus memikirkan biaya.
Meskipun akses bagi pelajar dibebaskan, Pramono memberikan catatan bahwa para orang tua atau pendamping tetap akan dikenakan tarif normal. Terkait mekanisme teknis, Dinas Pendidikan DKI Jakarta akan mengatur kuota harian tiket gratis tersebut, sementara manajemen biaya tiket reguler berada di bawah kendali PT Jakarta Propertindo (Jakpro).
Planetarium Jakarta kini hadir dengan wajah yang jauh lebih modern. Direktur Utama Jakpro, Iwan Takwin, menjelaskan bahwa fasilitas visual yang sempat terbengkalai kini telah diperbarui total menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Inovasi ini menjanjikan pengalaman astronomi yang lebih interaktif dan nyata, bukan sebatas tontonan visual biasa.
Tak hanya soal bintang dan angkasa, Pramono juga meresmikan Paviliun Raden Saleh di kawasan yang sama. Fasilitas yang akrab disebut Wisma Seni ini merupakan hasil kolaborasi antara Jakpro dengan jaringan hotel Artotel. Dengan menyediakan 139 kamar, ruang pertemuan, hingga area working space, Paviliun ini diharapkan menjadi ekosistem pendukung bagi para seniman dan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) untuk berkarya dan berpameran.
Di balik rentetan peresmian ini, Pramono menekankan pentingnya penerapan single management di kawasan TIM agar pengelolaan tetap solid dan tidak tumpang tindih. Dengan kembali aktifnya berbagai fasilitas ikonik ini, Mas Pram optimistis posisi Jakarta sebagai kota global yang berbasis budaya akan semakin kokoh, sekaligus menjadikan TIM sebagai rumah yang nyaman bagi para pecinta seni dan ilmu pengetahuan.
Foto: Reza Pratama Putra/Berita Jakarta
