AI dan Kesehatan Mental Mahasiswa, Antara Peluang dan Tantangan Baru Dunia Kampus

Navaswara.com – National University of Singapore (NUS) sukses menggelar NUS Innovation Forum (NIF) Jakarta perdana pada 24 Oktober 2025. Mengangkat tema “AI, Inovasi, dan Pertumbuhan Ekonomi,” forum ini menghadirkan lebih dari 250 alumni, pemimpin industri, dan akademisi untuk menjajaki terobosan di bidang kecerdasan buatan (AI), teknologi mendalam (deep tech), dan ekonomi digital.

NIF Jakarta, yang merupakan bagian dari rangkaian forum global NUS, menegaskan komitmen universitas untuk memperkuat hubungan dan kolaborasi riset dengan Indonesia. Di sesi diskusi akademik Rector’s Panel, sejumlah pakar dari universitas ternama Indonesia dan Singapura membahas keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kemanusiaan, terutama bagi mahasiswa.

Prof. Dr. Hamdi Muluk Wakil Rektor Universitas Indonesia menuturkan, kini banyak mahasiswa yang mencari dukungan emosional dari chatbot seperti ChatGPT. “AI memang bisa membantu, tapi tetap ada sisi gelap seperti hallucination atau kesalahan interpretasi yang bisa menyesatkan,” katanya. Ia menilai penting bagi generasi muda untuk memahami cara kerja AI agar mampu berpikir kritis dan tetap kreatif.

Rektor NUS, Prof. Tan Eng Chye, menekankan bahwa AI seharusnya menjadi sarana peningkatan kemampuan manusia, bukan pengganti. “Yang penting adalah bagaimana kita melatih mahasiswa agar AI memperkuat daya pikir mereka, bukan menggantikannya,” ujarnya. Ia menjelaskan, sebagian besar pengguna masih berfokus pada efek substitusi—menggantikan pekerjaan manusia—padahal efek augmentasi jauh lebih berharga karena memperkuat potensi manusia melalui kolaborasi dengan AI.

Dari Indonesia, Prof. Ir. Lavi dari Institut Teknologi Bandung menyoroti perubahan perilaku sosial mahasiswa sejak pandemi. “Kebiasaan bersosialisasi di media digital membuat mahasiswa cenderung tertutup. AI memang meningkatkan produktivitas, tetapi kreativitas dan interaksi nyata tetap harus dijaga,” ucapnya.

Sementara itu, Dr. Danang dari Universitas Gadjah Mada menambahkan bahwa kampus kini memperhatikan kondisi mental mahasiswa sejak awal masa kuliah. “Kami melakukan pemeriksaan mental sejak penerimaan mahasiswa baru dan mendorong kegiatan pengabdian masyarakat agar mereka belajar empati serta kepekaan sosial,” jelasnya. Nilai integritas dan kebijaksanaan, lanjutnya, tetap menjadi dasar penting di tengah percepatan teknologi.

 

Prof. Simon dari NUS menutup dengan pandangan tentang hubungan manusia dan teknologi yang ideal. “AI selalu tersedia, tetapi hubungan antarmanusia tetap tak tergantikan. Tantangannya adalah membangun keseimbangan yang sehat antara keduanya,” ujarnya.

Para akademisi sepakat, dekade mendatang akan menjadi masa penyesuaian besar bagi dunia pendidikan. Di tengah lonjakan produktivitas yang ditawarkan AI, universitas dituntut untuk tetap menjadi ruang tumbuh bagi manusia yang berpikir, berempati, dan beretika.

Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Y.M. Kwok Fook Seng, menyambut antusiasme para peserta dan menyebut acara dengan ruangan penuh tersebut sebagai “uji coba yang berhasil.”

Menurutnya, pertemuan alumni kini harus melangkah lebih jauh dari sekadar ajang sosial. “Nilai utama AI dalam pendidikan adalah kemampuannya mempersonalisasi perjalanan pembelajaran bagi individu,” ujarnya. Ia menambahkan, “Kreativitas manusia, kemampuan untuk menciptakan sesuatu di luar set data yang dipelajari AI tetap menjadi nilai tertinggi dan tak tergantikan. AI pada akhirnya hanya alat yang memberikan efek demokratisasi.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *