Navaswara.com – Nama Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung Reda Manthovani menuai sorotan usai disebut dalam laporan Indonesia Corruption Watch (ICW) terkait pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) Swasta.
Reda menjelaskan posisi dan keterlibatannya dalam program yang dipersoalkan tersebut.
Ia menegaskan, program MBG Swasta yang dijalankan bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) merupakan kegiatan kemanusiaan yang ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi penyandang disabilitas.
Menurut Reda, program tersebut lahir dari semangat gotong royong dan kepedulian sosial dari berbagai pihak yang ingin membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Dalam menyikapi informasi yang beredar terkait Program MBG untuk penyandang disabilitas, saya telah menjelaskan secara langsung dalam dialog di Kompas TV bahwa program ini merupakan murni program kemanusiaan yang lahir dari semangat kepedulian dan gotong royong,” ujar Reda.
Ia menggarisbawahi, program tersebut tidak menggunakan anggaran negara maupun dana pemerintah. Karena itu, Reda membantah adanya anggapan yang mengaitkan program tersebut dengan pelaksanaan program MBG nasional yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN).
“Perlu saya tegaskan pelaksanaan program ini tidak menggunakan anggaran negara maupun dana pemerintah. Seluruh kegiatan dijalankan melalui dukungan dan partisipasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pemenuhan kebutuhan gizi bagi saudara-saudara kita penyandang disabilitas,” kata dia.
Reda menjelaskan, dukungan terhadap program itu berasal dari partisipasi berbagai elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap isu pemenuhan gizi kelompok rentan.
Selain menegaskan sumber pendanaan program, Reda juga mengajak masyarakat untuk lebih cermat dalam menerima informasi yang beredar di ruang digital.
Menurutnya, derasnya arus informasi saat ini membuat publik perlu melakukan verifikasi sebelum mengambil kesimpulan atau membentuk opini.
“Mari bersama-sama lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Pastikan setiap informasi yang diterima berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Reda menilai kepedulian sosial tidak harus selalu bergantung pada dukungan anggaran pemerintah. Ia mengatakan, inisiatif kemanusiaan dapat dijalankan melalui kolaborasi berbagai pihak yang memiliki tujuan yang sama.
“Karena kepedulian tidak selalu harus menunggu anggaran, tetapi dapat dimulai dari niat baik untuk membantu sesama,” tutur Reda.
Melalui penjelasan tersebut, Reda berharap tidak ada kesalahpahaman terkait program MBG untuk penyandang disabilitas yang dijalankan secara mandiri. Ia menegaskan program tersebut merupakan inisiatif sosial independen dan tidak terhubung dengan program MBG nasional milik pemerintah.
