Navaswara.com – Menjadi salah satu acara tahunan paling meriah di kawasan Asia-Pasifik, pameran seni yang digelar di Art Central Hong Kong 2026 kali ini menghadirkan koleksi istimewa dari ISA Art Gallery sebagai Feature Gallery. Dalam ajang ini, turut ditampilkan karya tiga seniman ternama asal Indonesia, yaitu Arahmaiani, Jumaadi, dan Sinta Tantra di bawah kurasi Enoch Cheng dan Zoie Yung. Kehadiran mereka tidak hanya menandai pencapaian penting dalam dunia seni Tanah Air, tapi juga memperkuat posisi seni rupa Asia Tenggara.
Pameran ini mempertemukan tiga praktik artistik yang berbeda, namun saling terhubung dalam eksplorasi tema besar mengenai bagaimana tradisi dibawa, diolah, dan ditempatkan kembali dalam konteks kontemporer. Karya-karya yang ditampilkan mencerminkan dialog antara masa lalu dan masa kini, sekaligus membuka ruang refleksi terhadap identitas budaya di tengah dinamika global.
Sebagai salah satu seniman asal Indonesia yang paling berpengaruh, Arahmaiani dikenal luas melalui karya-karya yang mengangkat isu spiritualitas, ekologi, serta kritik sosial-politik. Dalam pameran kali ini, ia menghadirkan seri “I Love You” yang memanfaatkan aksara Jawi sebagai medium visual sekaligus konseptual.
Garis-garis kaligrafi yang mengalir tidak hanya berfungsi sebagai teks, tapi juga menjadi bentuk ekspresi artistik yang menggambarkan makna spiritual dan sejarah. Melalui pendekatan ini, Arahmaiani menyoroti akar dari sebuah proses perpaduan budaya Indonesia, sekaligus merespons kondisi bahasa dan identitas keagamaan di masa kini.
Sementara itu, Jumaadi menghadirkan karya-karya yang bersifat naratif dan puitis yang berakar pada kosmologi Jawa serta pengalaman diaspora. Dengan memanfaatkan medium seperti kertas, tekstil, dan kulit kerbau, ia merujuk pada tradisi visual wayang, namun dikembangkan menjadi sebuah bahasa dalam visual kontemporer.
Karya-karyanya dalam pameran ini membentuk lanskap naratif yang luas, di mana garis-garis halus membentuk figur manusia, hewan, dan makhluk hibrida. Cerita yang dihadirkan sang seniman juga tidak terikat pada kronologi linear, melainkan bergerak dalam sebuah waktu yang mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam ruang imajinatif yang kaya makna.
Di sisi lain, Sinta Tantra membawa pendekatan yang berbeda melalui komposisi geometris yang dikemas dalam instalasi berskala besar. Pada seri kanvas berwarna biru yang ditampilkan, ia mengeksplorasi garis sebagai elemen arsitektural. Bentuk lengkung, lingkaran, dan geometris menciptakan komposisi yang melampaui batas sebuah lukisan. Dengan palet warna yang didominasi biru, emas, dan linen, karyanya menghadirkan suasana yang memancarkan ketenangan.
Dengan menghadirkan tiga perspektif yang berbeda namun saling melengkapi, ISA Art Gallery menunjukkan bahwa tradisi bukanlah hal yang kaku, melainkan sesuatu yang terus bergerak dan bertransformasi. Melalui karya Arahmaiani, Jumaadi, dan Sinta Tantra, pengunjung diajak untuk melihat bagaimana identitas budaya dapat terus hidup dan relevan dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

