Navaswara.com – ISA Art Gallery kembali memamerkan karya-karya seni terbaik yang sayang untuk dilewatkan. Kali ini yang dihadirkan adalah pameran bertajuk “Present Presence” sebuah gelaran seni yang mempertemukan A. Sebastianus, Chiara Hardy, dan Chintia Kirana dalam satu ruang dialog.
Berlangsung pada 2 Mei sampai 2 Juli 2026 di Wisma 46, Jakarta, pameran ini berangkat dari pemahaman bahwa apa yang tampak di hadapan mata sesungguhnya selalu berasal dari proses pembentukan, dipengaruhi oleh material, cara pandang, serta waktu yang terus berjalan. Dalam keseluruhan karya yang ditampilkan, “kehadiran” tidak diposisikan sebagai sesuatu yang selesai begitu saja, melainkan sebagai hasil dari proses panjang.
Dalam pameran “Present Presence”, A. Sebastianus mengolah arsip, kenangan, dan material yang diwariskan melalui pendekatan yang berlapis. Ia kemudian merangkai ulang kenangan tersebut menjadi produk tekstil yang kaya makna, seolah menghadirkan kembali memori dalam bentuk baru yang tidak lagi utuh, namun justru membuka ruang tafsir yang lebih luas.
Sementara itu, Chiara Hardy membangun pengalaman visual yang berfokus pada persepsi melalui permainan cahaya, bentuk, dan transmisi. Karyanya menciptakan lingkungan di mana objek tidak hanya dilihat, tapi juga “bereaksi” terhadap gerak dan perhatian penonton. Di sisi lain, Chintia Kirana menghadirkan pendekatan yang lebih unik dengan menggunakan abu, karbon, serta permukaan reflektif untuk menggambarkan “waktu” ke dalam karyanya.
Salah satu karya yang ditampilkan adalah “Mata Surya II” buatan A. Sebastianus. Karya ini menampilkan dua buah lingkaran yang tampak seperti matahari terbit dan terbenam. Didominasi warna merah dan oranye, warna-warna hangat ini melambangkan energi, kekuatan, dan kesan sakral yang kuat.
Ada pula Chiara Hardy yang menghadirkan karya berjudul “Natica Conjugata”. Karya yang satu ini tampak unik dengan deretan cangkang siput yang dibariskan di atas panel kaca. Melalui karya ini, sang seniman menghadirkan eksplorasi tentang relasi, persepsi, dan cara manusia memaknai keterhubungan melalui objek-objek sederhana.

