Omset Naik Lima Kali Lipat, UMKM Lokal Ikut Merasakan Berkah MBG untuk ABK di Serang

Navaswara.com – Program makan bergizi kerap dipandang sebagai urusan dapur dan distribusi. Namun di Kabupaten Serang, inisiatif serupa justru menggerakkan dua sisi sekaligus, kebutuhan gizi anak berkebutuhan khusus dan keberlangsungan usaha mikro di sekitarnya. Dampaknya terasa cepat, dari ruang kelas hingga meja produksi pelaku UMKM.

Di sudut Kabupaten Serang, Ibu Nova membuka harinya lebih sibuk dari biasanya. Kedai Bahari miliknya kini rutin menyiapkan ratusan porsi makanan bergizi setiap pagi bukan untuk pelanggan umum, melainkan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di tiga sekolah khusus setempat.

“Sejak mengikuti program MBG, pendapatan kami lebih stabil setiap hari, bahkan omset kami naik lima kali lipat dibanding sebelumnya,” tutur Nova, salah satu mitra UMKM dalam program Makan Bergizi Gratis MBG Swasta yang digagas Baja Perkasa Sentosa BPS, Yayasan Inklusi Pelita Bangsa YIPB, dan Grab OVO, Rabu 12 Februari.

Kisah Ibu Nova menjadi bagian dari inisiatif yang tidak berhenti pada penyediaan makanan, tetapi turut menggerakkan roda ekonomi sekitar. Program CSR ini menyasar SKh Bina Citra Anak, SKh Permata Jannah, dan SKh Global Insani Madani, sekolah yang menampung anak-anak dengan kebutuhan khusus yang selama ini jarang tersentuh program gizi nasional.

Sekretaris YIPB Anzar Latifansyah menyampaikan harapannya agar anak-anak berkebutuhan khusus dapat tumbuh tanpa dibayangi persoalan akses gizi. “Kami ingin anak-anak kebutuhan khusus dapat tumbuh kembang tanpa perlu mengkhawatirkan akses gizi dan biaya makanan lagi sehingga mereka bisa bahagia dalam kesehariannya,” ujarnya.

Di balik distribusi makanan harian itu, sistem pengawasan berjalan terintegrasi. Grab OVO mengoperasikan Command Center dengan CCTV berbasis AI untuk memantau keamanan pangan secara real time, sementara mitra pengemudi Grab yang mengantar makanan ke sekolah telah melalui verifikasi standar kebersihan bersama Dinas Kesehatan setempat.

Pembeda program ini dari pola CSR konvensional terletak pada skema yang saling menguatkan. Anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh asupan gizi yang terjaga, UMKM lokal mendapatkan permintaan rutin dan pendapatan yang meningkat, sementara pemerintah daerah memiliki rekan kolaborasi dalam menjalankan agenda sosial tanpa menambah beban anggaran.

Direktur Utama BPS Ivan Wijaya menilai model ini menunjukkan bahwa program sosial yang dirancang matang dapat memberi dampak berlipat bagi lebih dari satu kelompok dan menghidupkan ekosistem di sekitarnya.

Inisiatif ini memberi gambaran bahwa kepedulian perusahaan dapat berjalan lewat kolaborasi. Saat perusahaan baja, yayasan inklusi, dan platform teknologi duduk bersama dalam satu kerja sama, yang hadir bukan hanya makanan, melainkan peluang yang lebih terbuka bagi anak-anak yang sering luput dari perhatian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *