Menko PMK Dorong Transformasi Sistem SAR Nasional, Basarnas Diperkuat Lewat Komando Terpadu

Navaswara.com — Transformasi sistem Search and Rescue (SAR) nasional menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan pentingnya penguatan Basarnas melalui integrasi lintas sektor dan sistem komando terpadu agar respons penyelamatan semakin cepat, efektif, dan terkoordinasi.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Forum Dialog Sarasehan HUT ke-54 Basarnas bertema “Penguatan Basarnas dalam Sistem SAR Nasional” di Kantor Pusat Basarnas, Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Menurut Pratikno, misi SAR tidak hanya sebatas pencarian, tetapi penyelamatan jiwa manusia yang berpacu dengan waktu. Ia menekankan pentingnya momentum golden hour dalam setiap operasi.

“Ini bukan hanya mencari, tapi yang paling utama adalah menyelamatkan. Penyelamatan itu mengenal golden hour. Detik keputusan diambil, detik itu pula seluruh infrastruktur harus bergerak,” tegasnya.

Dengan wilayah Indonesia yang luas dan risiko bencana yang meningkat akibat perubahan iklim, kebutuhan akan sistem SAR nasional yang kuat menjadi semakin mendesak. Pratikno menilai terdapat kesenjangan antara potensi risiko dengan kapasitas respons yang tersedia saat ini.

“Pemerintah bukan hanya dituntut hadir, tapi harus hadir cepat. Apalagi masyarakat sekarang tidak punya toleransi terhadap kelambanan,” ujarnya.

Dalam arahannya, Menko PMK memaparkan dua skema penguatan. Pertama, penguatan internal Basarnas melalui penambahan alat utama seperti helikopter, kapal, pesawat, personel, dan anggaran. Namun, opsi ini membutuhkan waktu dan pembiayaan besar.

Alternatif kedua yang dinilai lebih strategis adalah penguatan kewenangan dan integrasi lintas institusi negara melalui satu sistem komando terpadu.

“Ini bukan soal menambah otot, tetapi memperbesar kapasitas otak dan syaraf komandonya,” kata Pratikno.

Ia mengusulkan pembentukan Pusat Komando Reaksi Cepat SAR Nasional dengan prinsip satu ruang, satu data, dan satu komando. Dalam kondisi darurat, Basarnas dapat langsung mengoordinasikan TNI, Polri, dan kementerian/lembaga terkait tanpa hambatan birokrasi.

“Begitu channel berubah ke SAR, maka mekanisme komandonya juga berubah. Semua prosedur bisa dipangkas demi menyelamatkan manusia. Kita menyelamatkan tidak mengenal seragam dan tidak mengenal profesi,” tegasnya.

Penguatan komando ini, lanjutnya, perlu dibangun tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga regional hingga wilayah terpencil, dengan dukungan sistem komunikasi yang andal.

Pada momentum HUT ke-54, Menko PMK juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel Basarnas, TNI-Polri, ASN, serta relawan yang bertugas di garis depan penyelamatan.

“Teman-teman SAR justru menuju ke tempat bahaya ketika orang lain menjauhinya. Ini bukan hanya profesi, tapi pengabdian luar biasa,” ujarnya.

Menko PMK bersama sejumlah tokoh menerima Anugerah Warga Kehormatan Basarnas sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dalam penguatan sistem pencarian dan pertolongan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *