Navaswara.com – Menghadapi data bahwa Jawa Barat mencatat kasus kanker tertinggi di Indonesia yang mencapai lebih dari 156 ribu jiwa, kita tentu tidak sedang membicarakan angka semata. Realitas pahit ini merupakan alarm keras bagi fasilitas kesehatan untuk bertransformasi melampaui layanan dasar. Tantangan ini pulalah yang dijawab oleh Primaya Rajawali Hospital Bandung melalui pembaruan layanan yang lebih komprehensif.
Munculnya angka kasus yang tinggi tersebut tidak lepas dari dinamika masyarakat urban saat ini. Gaya hidup perkotaan yang serba cepat memang menawarkan kemudahan, namun di sisi lain membawa konsekuensi medis yang serius dan kompleks. Bagi warga kota, kesehatan kini bukan lagi sekadar urusan sembuh, melainkan bagaimana mendapatkan penanganan yang efisien tanpa mengorbankan kualitas hidup mereka.
Menjawab kebutuhan akan efisiensi tersebut, Primaya Rajawali Hospital menghapus pola lama di mana pasien harus terjebak dalam birokrasi yang melelahkan atau berpindah-pindah gedung. Melalui konsep Center of Excellence (Layanan Unggulan), rumah sakit ini menerapkan pendekatan multidisiplin. Di sini, dokter spesialis dari berbagai bidang akan berkolaborasi secara langsung untuk menentukan langkah medis terbaik bagi satu pasien dalam satu pintu layanan yang terintegrasi.
Layanan yang menjadi ujung tombak saat ini adalah Oncology Center, Mother & Child Center, dan Trauma Center. Tak berhenti di situ, mereka tengah menyiapkan pusat penanganan jantung (Heart & Vascular), saraf (Brain & Neuro), hingga urologi.
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, menegaskan bahwa perubahan ini adalah komitmen untuk inklusivitas layanan kesehatan di Jawa Barat
“Kami tidak hanya mengubah nama, tetapi mengembangkan rumah sakit berbasis layanan unggulan dengan peningkatan menyeluruh pada sistem layanan, teknologi, dan standar klinis, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan yang berkualitas dan sesuai kebutuhan,” tegas Leona.
Teknologi yang “Memanusiakan” Pasien
Meski diperkuat teknologi modern seperti endoskopi untuk bedah minimal invasif dan digitalisasi Electronic Medical Record, rumah sakit ini tetap ingin menjaga sisi kemanusiaan. Dengan tema “Commitment to Excellence, Compassion in Care”, teknologi digunakan untuk mempercepat kesembuhan, sementara empati digunakan untuk menemani prosesnya.
Direktur Primaya Rajawali Hospital, dr. Budiyanto, MARS, menjelaskan bahwa kemudahan akses menjadi prioritas utama dalam transformasi digital mereka.
“Kami mengimplementasikan digitalisasi melalui Electronic Medical Record dan menghadirkan Primaya App. Bahkan ada sistem rujukan internal antar jaringan, sehingga pasien dapat memperoleh second opinion tanpa perlu berpindah fasilitas,” jelas dr. Budiyanto.
Komitmen untuk Semua Lapisan
Hadirnya fasilitas modern seringkali membuat masyarakat khawatir soal aksesibilitas. Namun, Primaya Rajawali tetap membuka pintu lebar bagi seluruh lapisan masyarakat melalui kerja sama dengan berbagai penjamin, mulai dari asuransi swasta hingga BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, S.E, yang hadir dalam peresmian tersebut, menaruh harapan besar agar kehadiran rumah sakit ini mampu mendongkrak indeks kepuasan pasien di Kota Kembang yang saat ini sudah berada di angka 85 persen.
“Kehadiran fasilitas kesehatan dengan layanan terintegrasi dan berbasis teknologi seperti ini diharapkan dapat memperluas akses layanan yang cepat, tepat, dan berkualitas bagi masyarakat Bandung,” ujar Farhan.
Penawaran Khusus Masa Pembukaan
Bagi Anda yang ingin melakukan pengecekan kesehatan preventif, masa pembukaan ini adalah waktu yang tepat. Hingga 30 Juni 2026, tersedia potongan 50% untuk konsultasi dokter spesialis.
Selain itu, terdapat paket skrining kesehatan seharga Rp 299.000 yang mencakup pemeriksaan mendalam untuk risiko kanker (termasuk gratis rontgen thorax dan USG mammae) serta skrining jantung (termasuk gratis EKG).
Dengan kapasitas 102 tempat tidur dan dukungan 36 dokter spesialis serta subspesialis, Primaya Rajawali Hospital siap menjadi standar baru layanan kesehatan terintegrasi di Bandung. Masyarakat kini punya opsi lebih kuat untuk mendapatkan penanganan medis yang presisi tanpa harus meninggalkan kenyamanan kota sendiri.
