Navaswara.com – Bedakan pemandangan laut yang seharusnya indah dengan kenyataan pahit ini: ubur-ubur yang biasa berenang anggun kini tampak terjebak di antara ribuan kantong kresek mengapung. Di kedalaman, kawanan ikan harus meliuk-liuk lincah hanya untuk menghindari gunungan kemasan saset makanan. Bahkan, ikan pari manta yang megah pun kini terlihat pasrah mengitari jaring hantu yang terbengkalai. Pemandangan miris ini bukanlah fiksi, melainkan realitas yang terjadi di perairan Indonesia.
Indonesia masih punya PR besar soal urusan lingkungan. Meski peringkat kita turun dari posisi ke-2 (versi studi Jambeck 2015) ke posisi ke-5 dalam daftar penyumbang sampah plastik ke laut, angka 56.333 metrik ton per tahun tetap bukan jumlah yang bisa disepelekan.
Dengan garis pantai sepanjang 99.000 kilometer, terpanjang kedua di dunia, plastik yang tidak terkelola di darat bakal sangat mudah “bocor” ke laut. Masalahnya nyata, tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar.
Berikut adalah 7 langkah konkret agar Indonesia bisa benar-benar bersih dari daftar hitam tersebut.
1. Perkuat Infrastruktur Pengelolaan Sampah dari Hulu
Banyak orang mengira masalah sampah cuma soal kesadaran masyarakat yang rendah. Padahal, masalah utamanya sering kali adalah ketiadaan pilihan. Di banyak daerah, terutama kota kecil dan pelosok, sistem jemput sampah belum merata. Mau tidak mau, sampah akhirnya berakhir di sungai. Memperluas jangkauan TPS-3R hingga ke level desa bukan lagi pilihan, tapi keharusan jika ingin mengejar target pengelolaan 100 persen sampah pada 2029.
2. Jangan Cuma Fokus di Sungai Besar, Jaga Juga Sungai Kecil
Selama ini perhatian kita tersedot ke sungai raksasa seperti Citarum atau Ciliwung. Padahal, riset terbaru menunjukkan ada lebih dari 1.600 sungai kecil yang menyumbang 80 persen plastik ke laut. Artinya, pemasangan trash boom atau alat penyaring sampah harus mulai dipasang di sungai-sungai kecil di kawasan padat penduduk dan pesisir sebelum sampahnya sampai ke muara.
3. Tekan Penggunaan Plastik Sekali Pakai di Sektor UMKM
Larangan kantong plastik di ritel modern memang bagus, tapi “pertempuran” sesungguhnya ada di pasar tradisional, warung, dan sektor UMKM. Penggunaan kemasan saset dan kantong kresek di sektor ini masih sangat masif. Regulasi yang lebih tegas di tingkat daerah serta pemberian insentif bagi pelaku usaha yang beralih ke kemasan ramah lingkungan akan jadi pendorong perubahan yang signifikan.

4. Tagih Tanggung Jawab Produsen melalui Skema EPR
Perusahaan besar tidak boleh hanya sekadar menjual produk lalu lepas tangan. Melalui Extended Producer Responsibility (EPR), produsen wajib bertanggung jawab atas kemasan plastik yang mereka hasilkan. Caranya bisa dengan merancang kemasan yang lebih mudah didaur ulang atau membangun sistem take-back (pengembalian kemasan) yang memudahkan konsumen. Ini soal etika bisnis di tengah krisis iklim.
5. Genjot Ekonomi Sirkular dan Budaya “Isi Ulang”
Tingkat daur ulang plastik kita saat ini baru di angka 22 persen. Angka ini masih sangat jauh dari ideal. Indonesia perlu lebih agresif mendukung industri daur ulang dan mempopulerkan kembali budaya refill (isi ulang). Kolaborasi dengan mitra global untuk mereplikasi model bisnis sirkular yang sukses di negara lain bisa membantu mempercepat transisi ini di pasar lokal.
6. Berdayakan Nelayan dan Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir adalah garda terdepan dalam menjaga laut. Selain edukasi di sekolah-sekolah pesisir, program pengelolaan ghost gear—alias jaring nelayan yang rusak atau terbuang—sangat krusial. Memberikan insentif bagi nelayan yang membawa kembali sampah plastik atau alat tangkap rusak ke pelabuhan bisa mengurangi beban polusi di dasar laut secara langsung.
7. Pastikan Data dan Pemantauan Tidak Sekadar Formalitas
Semua rencana aksi nasional akan jadi macan kertas kalau tidak ada pemantauan yang akurat. Indonesia butuh pemetaan hotspot sampah yang detail, tidak hanya berdasarkan perkiraan kasar. Dengan data yang presisi, pemerintah bisa tahu persis di mana kebocoran plastik paling parah terjadi dan melakukan intervensi yang tepat sasaran, bukan sekadar kebijakan yang bersifat umum.
Keluar dari daftar lima besar penyumbang sampah plastik laut adalah perjalanan panjang, tapi sangat mungkin dilakukan. Kuncinya bukan di satu gerakan besar, melainkan di sinkronisasi kebijakan pemerintah, tanggung jawab industri, dan perubahan kebiasaan kita sehari-hari. Mari buat laut Indonesia kembali bersih, bukan karena paksaan, tapi karena kita sadar itu adalah aset masa depan.
