Kemenko PMK Gerak Cepat Tangani Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Pastikan Keselamatan Santri

Navaswara.com — Bencana tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menjadi pengingat rapuhnya ruang hidup masyarakat di wilayah rawan bencana. Di tengah kepanikan warga akibat longsor yang meruntuhkan ratusan bangunan, pemerintah bergerak cepat untuk memastikan keselamatan, terutama bagi para santri Pondok Pesantren Al-Adalah yang terdampak langsung.

Staf Khusus Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Bidang Kerukunan Beragama, Ulun Nuha, turun langsung meninjau lokasi pada Jumat (6/2/2026). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas arahan Menko PMK Pratikno sekaligus respons cepat pemerintah terhadap peristiwa runtuhnya bangunan pesantren yang sempat menyita perhatian publik sehari sebelumnya.

Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan pergerakan tanah masih aktif. Situasi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah, mengingat sejak awal Februari pergeseran tanah telah menyebabkan kerusakan masif. Sedikitnya 464 bangunan terdampak, termasuk fasilitas pendidikan dan permukiman warga.

Di tengah situasi darurat itu, Ulun Nuha menegaskan bahwa langkah evakuasi yang dilakukan sejak muncul tanda-tanda awal pergeseran tanah menjadi kunci utama penyelamatan. Seluruh santri dan warga berhasil dievakuasi tepat waktu, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.

“Sejak gejala awal terdeteksi, santri dan warga langsung dipindahkan ke tempat aman. Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Ini menunjukkan kesiapsiagaan bencana di tingkat lokal berjalan dengan baik, meski tetap perlu diperkuat,” ujarnya.

Data sementara mencatat sebanyak 590 keluarga atau 2.425 jiwa harus mengungsi ke sejumlah titik pengungsian, mulai dari majelis taklim, sekolah dasar, hingga gedung serbaguna desa. Sementara itu, 526 santri Pondok Pesantren Al-Adalah dipindahkan ke Pesantren Al-Adalah 2 yang berjarak sekitar 2,6 kilometer dari lokasi terdampak.

Kerusakan paling parah terjadi di kompleks Pondok Pesantren Al-Adalah 1. Empat bangunan asrama, sepuluh ruang kelas, dan satu perpustakaan dilaporkan ambruk. Meski demikian, seluruh santri telah berada di lokasi aman sejak awal kejadian.

Sebagai bentuk dukungan nyata, pemerintah melalui BNPB menyalurkan bantuan darurat berupa paket sembako, selimut, kasur lipat, dan matras guna memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi selama masa tanggap darurat. Status tanggap darurat sendiri telah ditetapkan selama 14 hari hingga 16 Februari 2026.

Ke depan, penanganan bencana akan memasuki fase pemulihan dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan. Pemerintah masih menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi sebelum memulai pembangunan hunian sementara maupun perbaikan infrastruktur. Terkait rencana relokasi pesantren, Ulun Nuha mengungkapkan masih terdapat kendala ketersediaan lahan, mengingat luas lokasi pengganti jauh lebih terbatas dibandingkan area pesantren sebelumnya.

“Kemenko PMK akan terus mengoordinasikan langkah lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah agar penanganan bencana ini tidak berhenti pada fase darurat, tetapi berlanjut hingga solusi jangka panjang yang aman dan berkelanjutan,” tegasnya.

Di tengah duka dan ketidakpastian, keselamatan para santri menjadi prioritas utama. Peristiwa ini tidak hanya menjadi ujian bagi warga Padasari, tetapi juga menjadi cermin pentingnya kesiapsiagaan, koordinasi, dan kehadiran negara di saat masyarakat menghadapi ancaman bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *