Navaswara.com – Intel harus membayar mahal kesalahan strategisnya dalam membaca arah pasar teknologi. Produsen chip asal Amerika Serikat itu kehilangan lebih dari 46 miliar dolar AS atau sekitar Rp700 triliun dari kapitalisasi pasar hanya dalam satu malam, setelah sahamnya anjlok tajam.
Penurunan tersebut dipicu keputusan Intel yang dinilai keliru dalam mengelola lini produksinya. Perusahaan diketahui telah melikuidasi peralatan manufaktur lama senilai hampir 800 juta dolar AS dengan kerugian, demi memfokuskan sumber daya pada pengembangan chip generasi baru. Saat itu, Intel meyakini bahwa CPU lama tak lagi memiliki pasar yang relevan.
Namun, asumsi tersebut berbalik arah pada paruh kedua 2025. Perusahaan-perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) justru menyadari bahwa pusat data mereka membutuhkan lebih banyak CPU dibandingkan GPU, terutama untuk chip generasi lama yang dinilai masih efisien dan kompatibel dengan sistem yang ada.
Pesanan CPU pun membanjiri Intel. Sayangnya, perusahaan tak siap menyambut lonjakan permintaan tersebut. Gudang nyaris kosong karena sejumlah jalur produksi telah ditutup dan kapasitas manufaktur tidak diperluas sejak awal.
Chief Financial Officer Intel, David Zinsner, mengakui perusahaan terlalu bergantung pada persediaan yang ada dan gagal meningkatkan kapasitas produksi dengan cukup cepat untuk merespons perubahan permintaan pasar.
“Kami terlalu mengandalkan stok dan tidak memperluas kapasitas secepat yang seharusnya,” ujar Zinsner, dikutip dari pernyataan internal perusahaan.
Akibat kesalahan perhitungan itu, saham Intel langsung terjun 17 persen. Penurunan ini menghapus kenaikan harga saham sebelumnya yang sempat terdorong oleh optimisme pasar terhadap tren AI serta dukungan kebijakan pemerintah Amerika Serikat.
Sejumlah analis menilai Intel seharusnya menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari ledakan industri AI global. Namun, alih-alih memetik hasil, perusahaan justru kehilangan momentum emas akibat strategi efisiensi yang dinilai terlalu agresif.
Kasus Intel menjadi pengingat bahwa di industri teknologi yang bergerak cepat dan sulit diprediksi, pemangkasan biaya tanpa perhitungan matang bisa berujung pada kehilangan peluang besar dan kerugian yang tak sedikit.
Foto: Istimewa

